Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menulis, Memulai dari Hasrat dan Cinta

Dengan hasrat, dan juga dengan cinta sebagai bagian dari hasrat, suatu karya bisa bermula atau dapat lahir.

Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/ALFIAN
Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan yang juga Dosen Ilmu HI Unhas Adi Suryadi Culla. Adi Suryadi Culla penulis Opini Tribun Timur berjudul ' Menulis, Memulai dari Hasrat dan Cinta (1)'. 

Oleh:
Adi Suryadi Culla
Dosen Ilmu Hubungan Internasional dan Pascasarjana Ilmu Politik FISIP Unhas
Ketua Dewan Pendidikan Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Tak dapat saya membayangkan orang mampu menulis atau membuat tulisan, tanpa dorongan hasrat.

Manusia bukan mesin tanpa jiwa. Semua orang menjalankan aktivitas hidup keseharian, tapi hanya dengan hasrat hidupnya bermakna.

Dengan hasrat, dan juga dengan cinta sebagai bagian dari hasrat, suatu karya bisa bermula atau dapat lahir.

Ingatan tentang pengalaman awal mulai menulis ini membuat saya menoleh ke belakang, ke masa remaja, di umur belasan ketika itu – saat usia kepala enam kini.

Jejak pengalaman awal perjalanan kepenulisan itu tentu sudah lama terlampaui, dan jika tidak karena coretan ini, hampir saja memori itu hilang tenggelam dalam ingatan. Sebab arsip dari tulisan awal itu, tak lagi saya temukan di susunan kertas simpanan.

Rangsangan Hasrat

Karena pengalaman kreatif itu saya rasakan bersifat psikologis, untuk me-“nyata”-kannya terbersit suatu pikiran searah fondasi psikoanalisa Lacanian.

Jacques Lacan (1978) menjelaskan bahwa hasrat itu merupakan kekuatan mendasar manusia. Lacan menolak pendahulunya, Sigmund Freud yang menyebut Ego sebagai sumber kekuatan psikologis yang menggerakkan manusia.

Saya kira ada orang memang menulis juga karena ransangan ego. Karena itu, Freud juga tidak salah. Saya pun merasakannya.

Dalam bahasa lain, ego dimaksud merujuk suatu kepentingan yang bermakna motif diri secara individual. Namun, oleh Lacan, elemen ego dimaksud dibedakan dengan hasrat.

Bagi Lacan, manusia berbuat adalah bersumber pada hasrat, dan itu berbeda dorongan kebutuhan dan permintaan yang melatari ego.

Inti konsep “kebutuhan” merujuk pada insting biologis, dan itu ditunjukkan dalam bentuk “permintaan” atau tuntutan.

Sedangkan hasrat berada di luar dimensi kebutuhan dan permintaan. Dalam kamus bahasa Indonesia, hasrat diartikan sebagai suatu “keinginan” (harapan) yang kuat.

Hasrat merupakan kekuatan yang mengontrol hidup setiap orang, yang terus menerus bereproduksi, dan meminta dipenuhi dari waktu ke waktu. Dengan hasrat itulah, setiap diri selalu merasa terus hidup. Tak ada hasrat, mati.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved