Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menulis, Memulai dari Hasrat dan Cinta

Dengan hasrat, dan juga dengan cinta sebagai bagian dari hasrat, suatu karya bisa bermula atau dapat lahir.

Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/ALFIAN
Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan yang juga Dosen Ilmu HI Unhas Adi Suryadi Culla. Adi Suryadi Culla penulis Opini Tribun Timur berjudul ' Menulis, Memulai dari Hasrat dan Cinta (1)'. 

Di kala SMA sebenarnya saya juga mulai membaca berbagai bacaan berat, selain gemar komik. Namun, saya mengalami kesulitan menyerapnya.

Tetapi, meski tak sampai memahami esensinya, bacaan berat itu dari buku-buku yang terpajang di kamar orang tua saya yang hobi membaca dan mendalami pengetahuan agama, saya merasa sangat menyukainya. Saya membaca buku filsafat, tasawuf dan syair sufisme.

Lalu, dilarang oleh ayah saya menyentuhnya. Katanya, belum saatnya untuk membaca buku tasawuf.

Sampai sekarang masih terngiang ucapan almarhum ayah saya: “Jangan dulu baca buku filsafat dan tasawuf karena belum saatnya.

Seumpama berenang di laut luas dan dalam, dengan usia kamu yang masih muda maka resiko berbahaya bakal dialami: ibaratnya, tenggelam!” Tapi, saya tetap sering mencuri waktu dan kesempatan secara diam-diam, dan tetap saja buku-buku filsafat dan tasawuf itu jadi favorit.

Saya tertarik terutama pada tasawuf karena banyak ilustrasi tentang riwayat dan ajaran para sufi yang terasa kok mudah terserap menyentuh rasa. Apalagi saya menemukan banyak syair indah karya para sufi yang tertuang di dalamnya.

Syair romantisme para sufi itu terasa langsung masuk menohok ke jiwa. Sekadar menyebut di antara sufi itu seperti Rabiah al Adawiyah, Abdul Qadir Jailani, Hasan Basri, Suhrawardi, dan lainnya.

Ucapan para sufi yang puitis sangat saya sukai. Seolah ada yang cocok dengan gejolak jiwa remaja saya.

Berbicara tentang cinta, pujian dan kedudukan hamba sebagai kekasih Sang Pencipta. Semua itu sungguh membuat pikiran saya terpesona.

Seolah kalimat sufi itu menjadi inspirasi untuk perasaan cinta yang mulai tumbuh saya alami, dan bergejolak di masa pubertas.

Apalagi ada gejolak rasa yang tertuju pada seorang gadis teman sekolah yang menarik saya saat itu, terasakan kalimat sufi yang terserap melalui gambaran cintanya sebagai kekasih Allah, seolah mewakil perasaan saya yang sedang jatuh cinta.

Hasrat dalam membaca buku yang terpenuhi di rumah melalui koleksi ayah saya, dan pengalaman menjelajahi bacaan artikel di koran cetak yang juga saya baca di perpustakaan sekolah, memberikan pencerahan yang berkesan.

Dalam hati bermimpi dapat membuat karya tulis serupa kelak. Salah satu karya yang saya sukai di pajangan koleksi rak buku ayah saya adalah karangan Buya Hamka tentang pemikiran tasawuf.

Selain itu, buku yang menarik saya saat itu dari koleksi ayah, buku tebal dua jilid dari Bung Karno: Di Bawah Bendera Revolusi. Saya begitu mengagumi tulisan Buya Hamka dan Soekarno.

Terasah di Perpustakaan

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved