Opini
Menulis, Memulai dari Hasrat dan Cinta
Dengan hasrat, dan juga dengan cinta sebagai bagian dari hasrat, suatu karya bisa bermula atau dapat lahir.
Dorongan Hobi
Hasrat untuk menulis mulai nyata di masa SMA. Namun, di masa SMP sudah terasakan rangsangannya, melalui kecintaan terhadap karya kreatif.
Dalam masa pendidikan menengah ketika itu saya memiliki ketertarikan pada dua hal: gemar baca dan hobi lukis.
Jika ditanya hobi, saya ingat di depan guru kelas spontan saya berujar, menjawab : melukis. Obyek yang paling saya suka : lukisan tubuh manusia khususnya bagian wajah, pemandangan alam berhias awan dan matahari, pegunungan lepas dengan puncak berjejer, laut lepas dengan perahu berlatar layar terkembang, pohon yang rimbun di sela bebatuan dan rerumputan, bunga mekar dengan dedaunan bersama tangkainya yang meliuk, gambar wajah pahlawan, serta aneka ragam hewan.
Teman-teman saya di masa kecil dan remaja senang, jika saya bantu untuk melukis atau minta dilukiskan. Sebaliknya saya pun senang, apalagi ada teman yang juga hebat melukis.
Saya pun terbayang hidup melukis, selain bercita-cita menjadi guru sebagai impian masa depan. Sayangnya, hasrat untuk mengembangkan potensi melukis, jika pun hanya amatiran, belum kesampaian.
Tak ada kesempatan untuk bereksplorasi lebih serius hingga sampai masuk di usia lebih separuh baya. Semoga hasrat melukis itu yang terasa selalu membayangi dapat tersalurkan sebelum tubuh atau diri uzur.
Tertanam keinginan menulis atau mengarang, tapi lebih menonjol hobi melukis. Dalam suatu kontestasi melukis di masa SD di hari proklamasi, saya pernah ikut dalam suatu lomba dan menjadi salah satu juara.
Lalu di masa SMP dan SMA, saya melukis dari mendapatkan inspirasi gambar komik. Saat itu saya tidak lagi hanya tertarik pada gambar komiknya, tapi sudah merasa menikmati alur kisah komiknya.
Saat itu saya bersyukur, salah seorang di antara kakak saya senang baca dan sering menyewa komik.
Saat itu, bacaan komik menjadi konsumsi popular. Tak kenal batas umur. Barangkali serupa era gadget, computer dan tablet di era digitalisasi atau revolusi informasi saat ini, dengan akses bacaan yang kaya melalui layar internet.
Ketika itu, sekitar tahun 70an hingga 80an, ada tempat persewaan komik atau berlangganan. Dari ragam kisah komik berseri seperti Si Buta dari Gowa Hantu, Panji Tengkorak, Mandala, dan banyak komik lainnya, termasuk kisah dongeng karya HC Enderson, hingga cerita silat berseri karangan Kho Ping Kho dan Khu Lung yang masih sulit saya pahami namun punya gambar ilustrasi memukau, semua saya ikut nikmati sebagaimana teman lainnya saat itu.
Belakangan saya menyadari dari pengalaman menyukai komik baik dalam rupa sketsa gambarnya maupun alur pelukisannya, terasa dari situ saya mendapatkan rangsangan untuk mengarang. Saya tertarik membuatnya dalam ilustrasi komik.
Di saat SMA saya pernah membuat sebuah buku komik versi silat, namun tidak tuntas dan tidak terbit. Sayang, komik karangan itu tidak tersimpan dan tidak ketemu pula jejaknya.
Terinspirasi Tasawuf
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/adi-suryadi-culla-saat-menjadi-narasumber-pada-webinar-dialog-pendidikan-senin-1782020.jpg)