Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

NU, Tradisionalisme Islam dan Gus Dur

Nahdlatul Ulama (NU) telah berusia satu abad menurut penanggalan Hijriyah (16 Rajab 1344 - 1444 H).

DOK PRIBADI
M Fadlan L Nasurung - Yayasan Nalarasa 

Oleh: M Fadlan L Nasurung
Yayasan Nalarasa

TRIBUN-TIMUR.COM - Nahdlatul Ulama (NU) telah berusia satu abad menurut penanggalan Hijriyah (16 Rajab 1344 - 1444 H).

Usia satu abad hanyalah penanda waktu berdirinya sebuah organisasi kebangkitan ulama di titimangsa 1926 M.

Jauh sebelum itu, secara ideologi dan kultural, NU telah hidup dalam kebudayaan masyarakat muslim di berbagai kawasan Indonesia kini.

Secara demografi, warga NU (jama’ah) mula-mula adalah para kyai dan santri pondok pesantren, para mursyid dan murid tarekat, serta masyarakat muslim pengamal tradisi Islam lokal yang umumnya terkonsentrasi di kampung-kampung.

Setelah melalui berbagai fase sejarah sebagai sebuah organisasi, NU kemudian menciptakan lokomotif kaderisasi melalui badan-badan otonomnya.

Tradisionalisme Islam

NU sering disebut sebagai organisasi kaum tradisional. Tradisionalisme dapat pula disebut sebagai spiritualisme lokal.

Sebuah cara memandang kehidupan (world view) dan sekaligus cara berkehidupan (way of life) berakar pada kebudayaan setempat.

Kebudayaan itu hadir dalam ragam praktek-praktek tradisi, baik dalam lingkup ritualitas hidup sehari-hari, maupun dalam bentuk aktivitas sosial kemasyarakatan.

Tradisi sebagai ritualitas hidup, berintikan pada ikhtiar terus-menerus untuk menjaga keseimbangan kosmologis.

Hal itu sejalan dengan konsep silaturahim, salah satu inti ajaran dalam Islam.

Silaturahim adalah terjalinnya relasi yang mutualistik (selaras) dengan berbagai dimensi, baik relasi dengan Tuhan, relasi dengan sesama manusia yang hidup maupun yang telah wafat dan relasi dengan alam sekitar.

Sebagai organisasi besar, NU secara institusional (jam'iyyah) terus bergerak ke arah modern dan semakin sering melafalkan sabda-sabda kemajuan.

Semoga dengan itu, tradisi semakin dimaknai sebagai keniscayaan dalam kehidupan, bukan hanya sebagai seremonial pelengkap kegiatan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved