Opini
NU, Tradisionalisme Islam dan Gus Dur
Nahdlatul Ulama (NU) telah berusia satu abad menurut penanggalan Hijriyah (16 Rajab 1344 - 1444 H).
Ia tetaplah seorang santri dan sekaligus kyai yang menjunjung tradisi. Gus Dur yang merupakan seorang pecinta musik klasik dan penggemar sepak bola, adalah juga seorang sarjana kuburan (sarkub) yang gemar menapaktilasi makam-makam keramat para wali di berbagai tempat.
Bahkan, Gus Durlah yang mula-mula mempopulerkan makam Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini, salah seorang Wali pertama tanah Jawi (Nusantara) yang berlokasi di kampung Tosora Kabupaten Wajo.
Gus Dur berhasil mendudukkan modernitas sebagai sebuah keniscayaan zaman, dan tradisionalitas sebagai keniscayaan kehidupan dalam relasi yang saling mengisi dan melengkapi. Gus Dur berpandangan bahwa modernitas dan atau gagasan soal kemajuan itu harus berangkat dari tradisionalisme.
Selain sebagai seorang penggerak tradisi, Gus Dur juga sekaligus negarawan ulung, ia menjalankan perannya secara maksimal sebagai pelayan ummat dan sekaligus aktor kepentingan rakyat di tingkat elit. Pernah menjadi Ketua Umum PBNU tiga periode dan Presiden RI, adalah jalannya mengkhidmatkan diri sepenuh-penuhnya untuk keislaman, kemanusiaan dan kebangsaan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fadlan-202312098.jpg)