Opini
NU, Tradisionalisme Islam dan Gus Dur
Nahdlatul Ulama (NU) telah berusia satu abad menurut penanggalan Hijriyah (16 Rajab 1344 - 1444 H).
Salah satu indikator orang-orang NU mempertahankan tradisionalismenya, yakni saat ilmu-ilmu pengobatan tradisional berbasis spiritualisme yang telah lama dipraktekkan oleh para kyai/gurutta dan orang-orang kampung, tidak digusur atas nama modernitas dan sainstisme.
Sebab, di tengah rezim ilmu pengetahuan rasio-sentrisme yang sering diandaikan sebagai penggerak modernitas, manusia justru menghadapi ancaman pandemi penyakit biologis dan penyakit mental yang kian menampakkan rupa.
Manusia modern telah sangat surplus ilmu pengetahuan (sains), tetapi mengalami defisit kearifan/kebijaksanaan.
Salah satu inti ajaran tradisionalisme adalah kearifan memandang kehidupan dan kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan.
Tradisionalisme merupakan ciri pembeda utama antara NU dengan ormas keislaman lain di Indonesia.
Diktum "Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan relevan dan mengambil serta mengembangkan hal-hal baru yang lebih baik" adalah kaidah kehidupan yang mesti terus diberpegangi oleh warga Nahdliyyin.
Meneladani Gus Dur
Salah satu role model yang patut diteladani oleh seluruh warga NU bahkan bangsa Indonesia adalah sosok Gus Dur.
Sebagai Guru Bangsa, Gus Dur adalah contoh pembelajar sejati. Ia membaca referensi/literatur luas dan beragam. Belajar pada guru beragam, berkawan dengan orang-orang yang beragam, berjumpa dengan realitas beragam, dan mengunjungi tempat-tempat yang beragam.
Keragaman adalah hal inheren dalam diri Gus Dur, itulah sebabnya ia begitu mencintai Indonesia dan berjuang selama hayatnya untuk Indonesia yang beragam.
Karena baginya “Indonesia ada karena keberagaman”. Modalitas itu pula yang membuat Gus Dur teguh nan tegas dalam prinsip yang diyakini dan lentur dalam cara yang dipilih untuk mewujudkan cita-citanya.
Gus Dur dalam sejumlah tulisan para peneliti, seringkali dikategorikan sebagai seorang pemikir liberal dan neo-modernis.
Gus Dur memang adalah seorang pemikir bebas dan sekaligus seorang intelektual yang terbuka terhadap segala macam ide dan gagasan.
Dalam banyak kesempatan Gus Dur senantiasa mengapresiasi kebebasan berpikir dan memberi ruang selebar-selebarnya bagi anak-anak muda NU untuk bertumbuh, belajar tentang apa saja, menyerap wawasan ilmu pengetahuan dari berbagai kawasan.
Keterbukaan Gus Dur terhadap khazanah pemikiran dari berbagai penjuru, tidak lantas membuatnya tercerabut dari akar kulturalnya sebagai seorang manusia tradisional yang lahir dan dibesarkan dalam rahim NU.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fadlan-202312098.jpg)