Guru Honorer Cabul di Parepare

Guru Cabul di Parepare Ternyata Berlatar Residivis, Kok Bisa Diterima Jadi Pengajar?

Kepala Sekolah SMK tempat pelaku bekerja, Ahmad Titus mengatakan pelaku guru cabul diterima karena adanya hubungan kekeluargaan.

Penulis: M Yaumil | Editor: Ari Maryadi
M Yaumil/TribunParepare.com
suasana SMK tempat guru honorer cabul mengajar di Kota Parepare, Kamis (19/1/2023) siang. 

TRIBUNPAREPARE.COM, PAREPARE - Kasus guru honorer cabuli tiga siswanya menjadi atensi publik di Kota Parepare.

Guru cabul itu merupakan residivis yang kemudian diterima menjadi staf di salah satu SMK di Kota Parepare.

Diketahui SMK itu merupakan yayasan swasta yang didalamnya terdapat dua sekolah yang mempunyai manajemen yang berbeda. 

Sekolah pertama bergerak dibidang pelayaran dan kedua dibidang kesehatan.

Kepala Sekolah SMK tempat pelaku guru cabul bekerja, Ahmad Titus mengatakan pelaku diterima karena adanya hubungan kekeluargaan.

Pelaku tidak mengajar mata pelajaran, melainkan hanya diikutkan ketika ada kegiatan luar sekolah.

"Makanya saya ini dari lingkungan keluarganya seolah-olah memanipulasi. Apanya yang saya manipulasi kan bukan saya," katanya saat ditemui di sekolahnya, Kamis (19/1/2023) siang.

"Statusnya disini, staf pembinaan siswa. Dia itu dilibatkan kalau ada siswa disiplin lapangan tugasnya," tambahnya.

Kepsek itu menganggap bahwa pelaku guru cabul itu sudah meninggalkan prilaku bejat itu.

Menurutnya, prilaki menyimpang itu sudah menjadi penyakit.

"Begini, itukan namanya kayak akrab lagi, jadi saya bilang kalau itu sifat-sifat begitu sudah harus ditinggal supaya jangan lagi ini," jelasnya.

Dia mengetahui bahwa pelaku merupakan residivis dengan kasus pencabulan.

"(Penyakitnya) itukan dia suka bukan perempuan itukan yang dia cabul itukan laki-laki, seandainya perempuan pemerkosaan mungkin tapi inikan cabul," ujarnya.

"Sama saya dulu tapi keluar, lalu honor masuk smp 9 disitu mi ada kasusnya lagi yang 2012 disitu banyak korbannya dulu. terus masuk lagi," imbuhnya.

Pelaku masuk SMK tersebut sejak 2017. Namun diperjalanan keluar karena covid 19. Lalu 2020 SMK itu kembali beroperasi.

"Nanti jalan lagi promosi sosialisasi Februari 2020 kita aktif lagi kembali. Nah hasil sosialisasi itulah yang dia bina selama ini," ucap Ahmad.

Ahmad menerangkan satu angkatan itu ada 37 siswa kelas X SMK tersebut.

Setiap angkatan kelas X wajib mengikuti Madabintal kurang lebih satu bulan.

Laporan Kontributor TribunParepare.com, M Yaumil

Sumber: Tribun Timur
  • Tribun Shopping

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved