Opini
Literasi Ulama: Nasionalisme AGH Ambo Dalle
Nasionalisme beliau terpatri pada cita-citanya mengembangkan DDI baik sebagai lembaga pendidikan maupun ormas keagamaan.
Oleh: Firdaus Muhammad
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan
Ketua Komisi Infokom MUI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam presentasi rancangan penelitian Komunikasi Politik Islam mengulas kiprah politik ulama di Sulawesi Selatan, pekan lalu, seorang reviewer dari dua tim penilai memantik penulis terkait sikap politik Anregututta KH Abdurrahman Ambo Dalle (1900-1996) kaitannya dengan kiprah beliau di DI/TII.
Keterlibatan Anregurutta Ambo Dalle dalam DI/TII ditegaskan bukan atas keinginannya melainkan terjadi peristiwa penculikan di daerah Maros dalam perjalanan dari Mangkoso barru menuju Makassar.
Selama beberapa tahun berada di hutan, kegiatan beliau seperti dikemukakan AGH Mahmud Abbas yang setia mendampingi AGH Ambo Dalle sekaligus bertugas memikul kitab dari tempat pengajian yang berpindah-pindah menyatakan bahwa selama di hutan, gurutta semata hanya memberi pengajian tanpa pernah menyiarkan ideologi DI/TII.
Sistem pengajaran beliau sama saja di pesantren DDI dengan di hutan.
Menyoal upaya tokoh DDI agar beliau diberi gelar pahlawan nasional, maka keliru jika penilain bahwa keterlibatan AGH Ambo Dalle pada DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar itu dianggap sebagai bentuk perlawanan sebab beliau hanya tawanan yang diperlakukan secara baik selama di hutan.
Sementara setelah kembali ke kota, tidak terlibat lagi di hutan, tidak pernah sedikitpun ada kesan dari pesan dan ceramah beliau yang bertentangan dengan ideologi negara.
Hal itu menjadi penegas bahwa nasionalisme gurutta tidak perlu disoal apalagi penghalang meraih gelar pahlawan.
Nasionalisme beliau terpatri pada cita-citanya mengembangkan DDI baik sebagai lembaga pendidikan maupun ormas keagamaan semata-mata atas kecintaannya pada negara.
Beliau sosok ulama Sulawesi Selatan (Sulsel) memilih berkiprah di jalan politik, berpartai hingga duduk di parlemen sebagai anggota legislatif. Setidaknya di era Orde Baru, gurutta harus memilih jalan politik untuk menjaga kesinambungan lembaga pendidikan atau pesantren yang dibinanya untuk eksis seperti dilakukan AGH Ambo Dalle memilih masuk Golongan Karya (Golkar).
AGH Ambo Dalle dilahirkan tahun 1990 di Wajo, tepatnya, sebelah timur Danau Tempe, sebelah utara Kota Sengkang.
Pada tahun 1935, AGH Abdurrahman Ambo Dalle ke Mekah untuk mengaji kitab kuning pada ulama Mekkah, diantaranya; Syekh Ahmad Sanusi.
Ketokohan dan keteladanan AGH Abdurrahman Ambo Dalle tercatat dalam tinta emas sejarah pendidikan berbasis keagamaan di Sulsel yakni, Pondok Pesantren DDI yang kini memiliki ratusan cabang di berbagai penjuru tanah air.
Beliau pernah mukim di Mangkoso, Pare-Pare dan Pinrang, guna merintis dan mengembangkan DDI.
Proses awal pengembangan Pesantren DDI berjalan baik karena AGH Abdurrahman Ambo Dalle, dikenal ulama multitalenta, menguasai berbagai disiplin ilmu agama, memiliki jiwa seni yang tinggi serta dikenal aktifis berbagai organisasi hingga partai politik yang memiliki jiwa nasionalisme.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dekan-fakultas-dakwah-dan-komunikasi-uin-alauddin-makassar-dr-firdaus-muhammad-ma-342020.jpg)