Opini
Visi Kepemimpinan, Reconsidered
Visi adalah sebuah mimpi. Setiap pemimpin, ataupun calon pemimpin, tentu penting memiliki mimpi.
Oleh: AM Sallatu
Pendidik dan Peneliti Tinggal di Parepare
TRIBUN-TIMUR.COM - Visi adalah sebuah mimpi. Setiap pemimpin, ataupun calon pemimpin, tentu penting memiliki mimpi.
Sebelum menjabat sesuatu jabatan puncak organisasi publik ataupun privat, seseorang akan menawarkan visinya untuk meyakinkan pemilih agar terpilih.
Ungkapan visi memperlihatkan kejelasan keterukuran seperti apa kinerja yang akan mampu dicapai nantinya.
Bobot dan signifikansi mimpi yang ditawarkan sejak awal sebenarnya sudah bisa tercermin pada pilihan kata kuncinya.
Termasuk bisa juga langsung terlihat kegamangan seseorang dalam merumuskan gambaran mimpinya, terutama terkait dengan pengukuran.
Tidak lama lagi dalam menghadapi Pilkada Serentak, perhelatan politik akan penuh dengan penawaran rumusan visi para calon Kepala Daerah (KDH).
Beruntung rumus ekonomi tidak berlaku disini, karena kalau penawaran tinggi, harganya akan turun.
Namun tetap saja, sepenting apakah visi calon KDH itu ? Setuju atau tidak setuju, visi lebih merupakan persyaratan administratif yang telah diatur dalam ketentuan yang berlaku.
Bahkan setelah terpilih pun, rumusan visi KDH terpilih hanya lebih banyak digunakan sebagai magic word dalam pidato, penghias baligho, pembenaran usulan program, dll.
Masih sulit untuk mendapatkan skema serta pelembagaan monitoring dan evaluasinya yang secara periodik dikomunikasikan ke publik.
Dalam banyak rumusan visi masih berhimpit antara magic word yang dipilih dengan jargon. Belum lagi kesulitan untuk konkritisasi pengukurannya.
Hal ini terutama disebabkan oleh dua hal.
Pertama, dibenak sang calon berkelindan banyak substansi yang ingin ditawarkan, namun kurang didukung oleh pemahaman strategik dan sikap tegas.
Realitas ini, secara sadar ataupun tidak sadar, menjadikan rumusan visi yang ditawarkan bagaikan seberkas jaring yang ingin dilemparkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/AM-Sallatu-Pendidik-dan-Peneliti-1.jpg)