Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Yang Terpencil

Yang terpencil kemudian terasa kota ketika Pemilu menyambut atau Pilkada didepan mata.

Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN TIMUR
Abdul Karim ketua Dewas LAPAR Sulsel sekaligus anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora. Abdul Karim penulis Opini Tribun Timur berjudul 'Yang Terpencil'. 

Tetapi Orde baru menyebut itu pembangunan, walau pembangunan tak rajin ke kampung.

Kecuali ketika musim panen, Orde baru kadang kala menginjak sawah untuk memamerkan panen raya.

Mereka masuk kampung dengan pengawalan ketat. Para pejabat segala level pun berbondong menyertai.

Pewarta turut serta. Tentu dengan seragam dinas safari disertai topi petani dengan sabit ditangan. Segenggam padi dipanen, lalu diwartakan.

Sawah yang digarap petani seolah mendapat berkah lantaran disambangi orang-orang penting. Petani hanya menontonya dari jauh.

Keterpencilan dizaman itu memang selalu dibungkus dengan kalimat “pembangunan”. Dengan itu kita nyaris tak menemukan keterpencilan.

“Yang terpencil” hanya ada dalam teori-teori akademik, tetapi fakta tentang “yang terpencil” ditutup, atau dibungkus dengan kesan pembangunan.

Panen raya yang rutin disiarkan TVRI itu sebuah bentuk bagaimana “pembangunan” membungkus “keterpencilan”. Karena keterpencilan dianggap sebagai aib rezim.

Namun kini, keterpencilan tak ditutup-tutupi lagi. Bahkan ia diupayakan dimunculkan lalu dicicipi.

Sekurangnya dua sebab, pertama, kehidupan modern kini menganggap “keterpencilan” sebagai destinasi tamsya.

Keterpencilan dianggap sebagai obat mujarab kepenatan fikiran dan kegundahan hati. Orang-orang kota lantas berbondong ke kampung terpencil.

Di tengah sawah, dibukit-bukit, hingga kandang lembu. Orang-orang kota bersepeda ke kawasan terpencil, berkemah, dan bersantap ria.

Semua proses itu lantas disebar dimedsos. “Yang terpencil” kemudian kian ramai lalu-lalang dilayar digital dan terasa tak terpencil lagi.

Kedua, “yang terpencil” kemudian terasa kota ketika Pemilu menyambut, atau Pilkada didepan mata. Kampung-kampung terpencil mendadak ramai.

Ramai oleh orang-orang yang ingin dipilih, mau dicoblos. Dan disaat begitu, keterpencilan disuarakan, dikampanyekan. Lalu ramailah “pejuang-pejuang terpencil”.

Sialnya, usai pencoblosan, sunyi sepi kembali bersemi. Yang tersisa hanya poster, pamflet para kandidat, dan janji-janji berlebih.

Keterpencilan tak pernah benar-benar hilang. Dan kita tak perlu heran dengan itu semua.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved