Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Yang Terpencil

Yang terpencil kemudian terasa kota ketika Pemilu menyambut atau Pilkada didepan mata.

Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN TIMUR
Abdul Karim ketua Dewas LAPAR Sulsel sekaligus anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora. Abdul Karim penulis Opini Tribun Timur berjudul 'Yang Terpencil'. 

Oleh:
Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita hidup diabad modern-abad dimana segala ruang adalah kota. Dimana saja kita berpijak, suasana ke-kota-an senantiasa terasa.

Nayris tak ada lagi desa dan kampung. Semua meng-kota.

Kota dalam pengertian terjangkau oleh mata, kerap kali dipandang mata, dapat dipijak oleh kaki setiap saat, tanpa keunikan yang unik, udik yang seolah tak berdusun.

Dengan itu, nyaris tak ada lagi “keterpencilan” sebenarnya. Keterpencilan dinegeri ini adalah masa lalu belaka.

Orde baru (Orba) sukses mencipta keterpencilan itu. Proyek transmigrasi yang bergulir bak ke-iba-an rezim saat itu tak mampu mentransformasi keterpencilan menjadi perkampungan ramai dikunjungi. Ekonomi kaum bawah tetaplah layu.

Program itu, tak kurang laksana menggeser kaum udik ke wilayah hutan perkampungan yang lain. Dikampung asal, mereka bertani atau berkebun.

Dikampung transmigrasi, mereka tetaplah sebagai penggarap. Hidup berputar begitu hingga bercucu.

Mereka hanya segelintir yang sejahtera. Padahal, proyek transmigrasi digerakkan untuk pemerataan kesejahteraan. Apa yang rata? Apa yang sejahtera sebenarnya?

Kita tahu yang rata saat itu mungkin hanya pengharapan yang nyaris kosong. Bahwa peserta transmigrasi rata-rata penuh pengharapan dengan buaian bila dinegeri trans itu hidup bernyala terang.

Tetapi apa lacur, kehidupan di atas kampung yang baru saja berpenghuni penduduk itu tetaplah gelap dan suram. Tak ada PLN, lampu minyakpun menemani.

Sementara di desa-desa non trans, kita lihat kesuraman tak pernah pergi. Penduduk memang intens bercocok tanam sekalipun hasil panen merugi.

Intensitas bercocok tanam lantas diapresiasi Orde baru sebagai bukti nyata pembangunan; masyarakat aktif berproduksi.

Barangkali ia lupa, bahwa bercocok tanam dinegeri ini bukan semata-mata untuk mepertahankan eksistensi dengan meraup untung.

Tetapi bercocok tanam dinegeri ini dipandang pula sebagai sebuah tradisi yang mesti lestari. Tradisi yang lestari, tentu pula adalah eksistensi.

Tetapi Orde baru menyebut itu pembangunan, walau pembangunan tak rajin ke kampung.

Kecuali ketika musim panen, Orde baru kadang kala menginjak sawah untuk memamerkan panen raya.

Mereka masuk kampung dengan pengawalan ketat. Para pejabat segala level pun berbondong menyertai.

Pewarta turut serta. Tentu dengan seragam dinas safari disertai topi petani dengan sabit ditangan. Segenggam padi dipanen, lalu diwartakan.

Sawah yang digarap petani seolah mendapat berkah lantaran disambangi orang-orang penting. Petani hanya menontonya dari jauh.

Keterpencilan dizaman itu memang selalu dibungkus dengan kalimat “pembangunan”. Dengan itu kita nyaris tak menemukan keterpencilan.

“Yang terpencil” hanya ada dalam teori-teori akademik, tetapi fakta tentang “yang terpencil” ditutup, atau dibungkus dengan kesan pembangunan.

Panen raya yang rutin disiarkan TVRI itu sebuah bentuk bagaimana “pembangunan” membungkus “keterpencilan”. Karena keterpencilan dianggap sebagai aib rezim.

Namun kini, keterpencilan tak ditutup-tutupi lagi. Bahkan ia diupayakan dimunculkan lalu dicicipi.

Sekurangnya dua sebab, pertama, kehidupan modern kini menganggap “keterpencilan” sebagai destinasi tamsya.

Keterpencilan dianggap sebagai obat mujarab kepenatan fikiran dan kegundahan hati. Orang-orang kota lantas berbondong ke kampung terpencil.

Di tengah sawah, dibukit-bukit, hingga kandang lembu. Orang-orang kota bersepeda ke kawasan terpencil, berkemah, dan bersantap ria.

Semua proses itu lantas disebar dimedsos. “Yang terpencil” kemudian kian ramai lalu-lalang dilayar digital dan terasa tak terpencil lagi.

Kedua, “yang terpencil” kemudian terasa kota ketika Pemilu menyambut, atau Pilkada didepan mata. Kampung-kampung terpencil mendadak ramai.

Ramai oleh orang-orang yang ingin dipilih, mau dicoblos. Dan disaat begitu, keterpencilan disuarakan, dikampanyekan. Lalu ramailah “pejuang-pejuang terpencil”.

Sialnya, usai pencoblosan, sunyi sepi kembali bersemi. Yang tersisa hanya poster, pamflet para kandidat, dan janji-janji berlebih.

Keterpencilan tak pernah benar-benar hilang. Dan kita tak perlu heran dengan itu semua.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved