Opini
Berakhirnya Era Messi
Lionel Messi gagal mempersembahkan kemenangan di laga pertama Piala Dunia 2022 bahkan harus kalah dari Timnas Arab Saudi.
Akhirnya saya menjawabnya, karena Saudi sudah saya kunjungi dan di sana ada Ka'bah, yang disambut anak saya dengan respon: oooh.....
Petandingan dimenangkan oleh Saudi Arabia, dengan pola permainan yang sangat epik, jebakan offiside (offside trap) yang sangat jitu, seakan mengajarkan negara para tuan sepakbola itu baru belajar menjalankan sepakbola modern yang salah satunya menerapkan model high line.
Pertahanan yang nyaris sempurna yang didukung oleh man to man marking sehingga tendangan dan sundulan pemain Argentina nyaris tidak bertenaga.
Tentang Messi?
Pertandingan piala dunia kali ini ibaratnya berjudul "The End of Messi's Era."
Saya tidak ingin mendahului takdir, namun sepertinya kasus melawan Saudi Arabia kemarin, yang mencatatkan sejarah tersendiri bagi sepakbola Saudi, menunjukkan bahwa mungkin Messi akan banyak berbangga pada penghargaan individualnya.
Namun, pada ukiran prestasi buat negaranya, dirinya cukup puas dengan pencapaian Copa Amerika.
Melawan Saudi kemarin, juga sudah jelas menandai bahwa Messi adalah manusia yang tunduk pada sisi takdir yang tidak mungkin berubah, bahwa usia tak mungkin bohong.
Kita tidak lagi bisa menyaksikan "sihir" memikatnya: double dribbling, pergerakan tanpa bola, kesederhanaan gerakan tapi penuh kelenturan.
Sejujurnya, saya sedih juga ketika parade sepakbola yang menunjukkan masuknya Messi pada hukum ketidakekalan sebuah dominasi diri.
Saya sedih ketika berhenti menonton Barcelona karena Messi sudah tidak di sana.
Saya sedih juga tidak pernah menonton PSG karena saya tahu di sana sudah bukan Messi yang saya tahu beberapa tahun lalu di Barcelona.
Baca juga: Tenang Lionel Messi ! Timnas Argentina Pernah Kalah di Laga Pembuka Piala Dunia tapi Lolos ke Final
Baca juga: Thanks Robert Lewandowski ! Peluang Timnas Argentina Lolos Fase Grup Piala Dunia 2022 Terbuka Lebar
Saya mungkin perlu merubah keterpikatan pada sebuah tim, bukan lagi pada "Dewa"nya, tetapi pada totalitas permainan tim, bukan lagi pada "superhero"nya tapi pada "superteam"nya.
Karena saya tidak yakin, apakah dalam abad ini akan lahir "Dewa" yang membawa "sihir" baru bagi dunia sepakbola.(*)
Baca berita terbaru dan menarik lainnya dari Tribun-Timur.com via Google News atau Google Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rektor-uin-alauddin-makassar-prof-hamdan-juhanis-232020.jpg)