Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Berakhirnya Era Messi

Lionel Messi gagal mempersembahkan kemenangan di laga pertama Piala Dunia 2022 bahkan harus kalah dari Timnas Arab Saudi.

Editor: Alfian
Ari / Tribun Timur
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhanis 

Oleh:

Prof Hamdan Juhannis

(Rektor UIN Alauddin Makassar)

TRIBUN-TIMUR.COM - Baru satu kali saya menonton sejak dimulai pertandingan piala dunia, saat Argentina bermain.

Pertandingan inipun mengundang dilema bagi saya, terutama saat si bungsu bertanya saya dukung yang mana.

Saya menjawabnya secara diplomatis untuk menunjukkan bahwa saya sulit memilih.

Saya mengatakan dua-duanya saya dukung, nak.

Saya mendukung Argentina karena dari dulu "fan" berat negara ini.

Tanya anak saya lagi, kenapa fanatik pada Argentina? Saya jawab karena di sana pernah lahir "Dewa" Sepakbola, namanya Maradona.

"Maradona itu nak, bisa membawa negaranya menjadi juara dunia, hampir seorang diri.

Setelah Maradona, ada Dewa pengganti, namanya Messi." Messi itu adalah sepakbola itu sendiri, karena dia menjadi "messiah" (penyelamat, pembebas) dalam banyak perhelatan sepakbola.

Messi itu lebih kurang dari Maradona, bisa membawa bola sendirian dari tengah lapangan, meliuk-meliuk melewati hadangan lima sampai tujuh lawan dan memasukkan bola itu ke gawang lawan dengan cara yang hampir mustahil pada pikiran orang yang menontonnya.

Kenapa harus mendukung Arab Saudi juga? Anak saya melanjutkan pertanyaannya. Terus terang, saya kesulitan menjawabnya dengan bahasa yang sederhana.

Saya ingin menjawabnya bahwa pemainnya memiliki agama yang sama dengan kita, tapi pada saat yang sama, saya tidak bisa membuat jawaban itu dipahami secara baik, bahwa jawaban saya berbau ideologis.

Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa saya juga mendukung Saudi, karena saya ingin melihat pemain-pemain yang memiliki idiologi agama yang sama dengan saya mampu menjadi magnet baru dalam perhelatan olahraga paling atraktif sejagat.

Akhirnya saya menjawabnya, karena Saudi sudah saya kunjungi dan di sana ada Ka'bah, yang disambut anak saya dengan respon: oooh.....

Petandingan dimenangkan oleh Saudi Arabia, dengan pola permainan yang sangat epik, jebakan offiside (offside trap)  yang sangat jitu, seakan mengajarkan negara para tuan sepakbola itu baru belajar menjalankan sepakbola modern yang salah satunya menerapkan model high line.

Pertahanan yang nyaris sempurna yang didukung oleh man to man marking sehingga tendangan dan sundulan pemain Argentina nyaris tidak bertenaga.

Tentang Messi?

Pertandingan piala dunia kali ini ibaratnya berjudul "The End of Messi's Era."

Saya tidak ingin mendahului takdir, namun sepertinya kasus melawan Saudi Arabia kemarin, yang mencatatkan sejarah tersendiri bagi sepakbola Saudi, menunjukkan bahwa mungkin Messi akan  banyak berbangga pada penghargaan individualnya.

Namun, pada ukiran  prestasi buat negaranya, dirinya cukup puas dengan pencapaian Copa Amerika.

Melawan Saudi kemarin, juga sudah jelas menandai bahwa Messi adalah manusia yang tunduk pada sisi takdir yang tidak mungkin berubah, bahwa usia tak mungkin bohong. 

Kita tidak lagi bisa menyaksikan "sihir" memikatnya: double dribbling, pergerakan tanpa bola, kesederhanaan gerakan tapi penuh kelenturan.

Sejujurnya, saya sedih  juga ketika parade sepakbola yang menunjukkan masuknya Messi pada hukum ketidakekalan sebuah dominasi diri.

Saya sedih ketika berhenti menonton Barcelona karena Messi sudah tidak di sana.

Saya sedih juga tidak pernah menonton PSG karena saya tahu di sana sudah bukan Messi yang saya tahu beberapa tahun lalu di Barcelona.

Baca juga: Tenang Lionel Messi ! Timnas Argentina Pernah Kalah di Laga Pembuka Piala Dunia tapi Lolos ke Final

Baca juga: Thanks Robert Lewandowski ! Peluang Timnas Argentina Lolos Fase Grup Piala Dunia 2022 Terbuka Lebar

Saya mungkin perlu merubah keterpikatan  pada sebuah tim, bukan lagi pada "Dewa"nya, tetapi pada totalitas permainan tim, bukan lagi pada "superhero"nya tapi pada "superteam"nya.

Karena saya tidak yakin, apakah dalam abad ini akan lahir  "Dewa" yang membawa "sihir" baru bagi dunia sepakbola.(*)

Baca berita terbaru dan menarik lainnya dari Tribun-Timur.com via Google News atau Google Berita

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved