Opini Tribun Timur
Klakson Panti Asuhan
Orang-orang beriman membayar zakat di panti asuhan. Baznas sebagai lembaga pengumpul zakat negara pun mendistribusikan zakat ummat pada panti asuhan.
Tetapi waktu terus berputar, situasi berubah. Beberapa panti asuhan pun pelan-pelan seringkali menjadi ladang membangun pencitraan politik seiring liberalisasi politik terbuka lebar dinegeri ini.
“Pemilihan langsung”, merangsang rasa keprihatinan aktor politik pada panti asuhan. Mereka berbondong menghampiri panti asuhan dengan membawa donasi dan janji seraya meminta doa-doa anak panti agar kelak dirinya terpilih. Proses-proses itu lalu direkam, difoto lantas disebar diruang-ruang Medsos. Viral tentu diharap.
Dibagian lain, kadang pula kita simak beberapa penghuni panti asuhan digiring ke rumah aktor politik untuk mengaji dan berdoa.
Tentu doa yang dirapal ringkas; agar yang bersangkutan terpilih kelak. Usai itu, ucapan terimakasih didistribusikan pada anak panti asuhan dan pembinanya. Proses-proses inipun direkam lantas dilempar ke dalam ruang-ruang Medsos.
Dari situ terpajang pemandangan baru, bagaimana beberapa panti asuhan berperan penting dalam pergerakan politik secara intens seiring pemilihan langsung yang dianut negeri ini sejak 2005 silam.
Sebelum 2005 pun sebenaranya begitu, tetapi fenomena itu kian massif semenjak pemilihan langsung digelar.
Begitulah sejumlah panti asuhan. Ia tak tunggal sebagai urusan ibadah sahaja, bukan pula urusan kemanusiaan belaka.
Tetapi ia menjadi objek politik diatas panggung demokrasi kita—walau seringkali terlupakan oleh negara.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora-45.jpg)