Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

'Daki'

Misalnya menggarap sawah, kebun dan sebagai buruh. Aktifitas demikian di dunia ini, semestinya tak sering dipandang kotor, kumal, kusam dan kuman.

Editor: Sudirman
Juanto Avol
Juanto Avol, Komisioner Bawaslu Gowa Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga 

Yang pasti, “daki” bisa menjelma sebagai kuman sosial atau dosa-dosa yang tak terampunkan, walau berada di sudut-sudut ruangan kantor ber-Air Condisioner (AC), atau di atas kursi yang bersih dan empuk, dibelakang meja nun rapih, dibalik seragam nan indah, itu bisa jadi petaka, daki.

Tengoklah misalnya, diberbagai beranda sosial media, cukup memilukan melihat prilaku “berdaki” seorang terhormat, mapan, tangguh, berwibawah dan punya segalanya, harus terjun tertelan prilaku lancung yang sulit diterima akal sehat.

Gegara cara-cara berdaki (kotor) itu kemudian membuatnya tertelan dalam jerumus dosa sosial yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan publik dan Tuhan. Sebagai manusia beriman, dia harus tunduk pada ketentuan sanksi itu kelak.

Saya ingin katakan, membangun praktek Culture Trust bukanlah perkara mudah, sebab melenceng sedikit maka negara akan hadir memberi sanksi dengan batasan aturan tertentu. Sedangkan sanksi sosial, akan terus berlaku di dunia hingga pengadilan akhirat, berat.

Agama dan Budaya

Dalam konteks demokrasi dan kehidupan sosial, saya mencoba meminjam teori tadi, Civil Trust dan Civil Culture, bahwa kehadiran negara dan warga merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dalam berbangsa.

Budaya jujur musti diterapkan, ia musti didorong dengan segala instrumen demokrasi, produk-produk kebijakan keberpihakan terhadap warga, agar melahirkan kepercayaan publik. Disinilah kemudian akan tersingkap, daki itu sebagai apa.

Apakah ia menjelma sebagai kotoran lumrah laiknya debu aktifitas biasa, ataukah ia terbaca sebagai ketidakpercayaan publik atas prilaku tak jujur, korup, kejam, penyelewengan atau abai dalam tampuk kekuasaan dan amanah konstitusi.

Inilah yang sering tak disadari, ragamnya daki sosial yang menjangkiti seperti jabatan dan kuasa elitis. Hal seperti itu jauh lebih mengenaskan jika tak disadari sebagai kontrol, maka ia sulit dihilangkan, mampu mengikis rasa dan nilai kemanusiaan, tak mempan dibersihkan dengan sabun dan mandi.

Maka satu-satuhya cara mengembalikan kesucian diri dari daki sosial itu, hanyalah dengan agama, dengan instrumen pertobatan yang mendasar yaitu dengan air wudhu kejujuran dan kebenaran, bukan kenikmatan nyamannya kuasa di ruang AC.

Maka semua itu, prilaku kita dalam praktek sosial semestinya terbaca oleh civil society sebagai tanggungjawab sosial yang berintegritas.

Bolehlah sebuah kuasa dan jabatan saya menyebutnya dengan istilah seperti daki, ia bisa hilang bak debu, atau menjadi penyakit sosial yang merontokkan sendi-sendi harkat, martabat dan kehormatan seseorang.

Ataukah ia menjadi sarana kebijakan dan kebajikan menghantarkan seseorang pada kemanfaatan menjadikan dia sebagai kesholehan sosial.

Daki, terimalah dan bersihkan sebagaimana mestinya.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved