Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

'Daki'

Misalnya menggarap sawah, kebun dan sebagai buruh. Aktifitas demikian di dunia ini, semestinya tak sering dipandang kotor, kumal, kusam dan kuman.

Editor: Sudirman
Juanto Avol
Juanto Avol, Komisioner Bawaslu Gowa Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga 

Oleh: Juanto Avol

Komisioner Bawaslu Gowa Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga

SABAN waktu, tiga tahun silam saya membaca narasi kritis seorang sahabat yang bijak, teksnya sederhana namun maknanya begitu dalam, cukup konstruktif mencerdaskan akal sehat orang-orang di kota kosmopolitan, merambah sampai ke kampung-kampung.

Di pelosok sana, semua mengerti tentang apa itu daki, bahkan tak jarang mereka berjibagu dengan dunia “perdakian”.

Misalnya menggarap sawah, kebun dan sebagai buruh. Aktifitas demikian di dunia ini, semestinya tak sering dipandang kotor, kumal, kusam dan kuman. Karena laku berdaki itu melekat disetiap mahluk, lalu mengapa orang menganggapnya kotor?

Jika dipahami dalam pandangan medis, tentu ia (daki) hadir sebagai bekas keringat yang berkuman, salah satu sumber penyakit yang menghujam metabolisme kekebalan tubuh.

Namun rupanya teori itu terbantahkan, sebab begitu banyak orang berdaki tetap sehat wal afiat, berusia panjang, walau sebenarnya nampak kumal dengan situasi dirinya.

Sebaliknya tak sedikit orang tampil bersih dan glowing, tapi terjangkit penyakit memilukan.

Nalar kita kemudian bertanya, daki itu masalah atau apa? Entahlah, tergantung pemiliknya. Apakah dia terbiasa dengan situasi dilingkungannya, atau mungkin telah menjadi bagian sumber daki dirinya.

Namun satu hal yang musti dipahami, tak semua daki nampak kumal, ia bahkan menjelma dalam samaran kehidupan sosial kita.

Disitu problemnya, kadang sulit melihat mana yang kotor dalam kesucian, atau nampak jelata-berlumpur tapi suci dalam debu.

Paradigma sahabat karibku tadi, kemudian saya sadur dalam tulisan-tulisan lepas, mencoba sebagai pesan stafet dalam narasi sosial sederhana tentang dunia “perdakian” bahwa berdaki dan mendaki tentu beda.

Di kampung halamanku misalnya, para warga tani penuh lumpur kotor menggarap tanah, melewati bukit dan setapak pematang, tapi sungguh mulia dan suci dia berjibagu dengan semua itu.

Niatnya lurus, mempertahankan keluarga demi mencari nafkah halal untuk kelanjutan hidup.

Di sudut lain kota ini, ada hal serupa tapi situasi berbeda, kaum papah dan miskin kota mengais nasib, secuil demi sedikit berharap ibah rezeki dari kaum mapan. Prinsipnya sama, bertahan hidup. Walau dengan cara kumal tapi bisa jadi itu lebih suci dan bersih.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved