Opini Syamril

Opini Syamril: Pola Hidup Seimbang

Kehidupan di kota besar seperti Jakarta bagi para kaum pekerja adalah kehidupan yang penuh perjuangan. Kemacetan menjadi menu dan teman perjalanan.

Opini Syamril: Pola Hidup Seimbang
Syamri
Syamril, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Kalla - Penulis opini Pola Hidup Seimbang

Oleh: Syamril

Rektor Institute Kalla

TRIBUN-TIMUR.COM - Kehidupan di kota besar seperti Jakarta bagi para kaum pekerja adalah kehidupan yang penuh perjuangan. Kemacetan menjadi menu dan teman perjalanan. Sehari bisa habis 4 jam di jalan. Apalagi saat jam berangkat dan pulang.

Kondisi itu juga mulai menular ke kota-kota lain termasuk Makassar. Kemacetan di sore hari saat pulang kerja sudah menjadi pemandangan biasa. Jalan protokol seperti Pettarani, Alauddin dan Urip Sumoharjo setiap hari selalu macet di pagi dan sore menjelang malam.

Kehidupan yang demikian berdampak pada tingkat stress warga yang tinggi. Akibatnya kesehatan mental menurun. Jiwa dan raga tidak imbang. Jika ini terus berlanjut dalam waktu panjang maka kebahagiaan menjauh dari kehidupan.

Apa solusinya? Mengurai kemacetan tentu sulit dilakukan. Maka sebagai warga yang bisa kita lakukan adalah mencoba pola hidup yang seimbang antara kerja dan kehidupan. Itulah yang disebut work life balanced.

Baca juga: Opini Andi Yahyatullah: Ada Apa dengan Gerakan Mahasiswa di Makassar?

Baca juga: Opini Aswar Hasan: Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan

Konsepnya memanusiakan diri sendiri. Manusia terdiri atas 4 unsur yaitu 4R : raga, rasio, rasa dan ruh. Perhatikan dan berikan 'makanan' kepada keempat unsur tersebut maka hidup akan seimbang.

Raga diperhatikan selain dengan gizi yang seimbang juga dengan olahraga yang teratur. Perlu dijadwalkan olahraga 30 menit setiap hari. Selain gizi dan olahraga, tubuh juga butuh istirahat. Usahakan tidur 6-8 jam setiap hari.

Rasio diperhatikan dengan melatih berpikir jernih melalui bacaan yang bermutu. Jauhkan diri dari hoax. Jangan ikut-ikutan sebar hoax. Saring sebelum sharing. Berpikir sebelum bertindak. Tahan sebelum merespon suatu berita. Periksa apakah benar, baik dan bermanfaat.

Rasa diperhatikan dengan seni dan kepedulian sosial. Mencari hiburan yang sehat dengan musik yang menyegarkan. Bisa juga dengan rekreasi sosial melalui silaturrahmi sesama teman. Atau membentuk dan bergabung dalam komunitas. Lebih bagus lagi jika komunitas itu punya aksi sosial membantu fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa.

Jangan lupa unsur terakhir yaitu ruh. Makanannya adalah ibadah rutin sehari-hari. Shalat wajib dan sunnah, zikir, doa, puasa, membaca Al Qur'an, bersedekah dan ibadah lainnya adalah santapan ruhani. Selain juga mengikuti pengajian rutin di masjid atau di manapun.

Itu semua akan menghidupkan ruhani kita yang akan meningkatkan keimanan dan kesadaran akan tujuan penciptaan yaitu beribadah kepada Allah. Jika itu telah tumbuh maka jiwa akan sehat karena memaknai segala aktivitas kehidupan sebagai ibadah.

Semoga dengan memberikan makanan yang seimbang pada raga, rasio, rasa dan ruh kita dapat meraih bahagia dalam kehidupan. Bahagia yang membuat kita produktif dan sukses di manapun kita berperan dan bertugas. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved