Opini Andi Yahyatullah
Opini Andi Yahyatullah: Ada Apa dengan Gerakan Mahasiswa di Makassar?
Negara kita tidak sedang baik-baik saja. Tapi mahasiswa Makassar diam-diam saja. Melihat kondisi nasional sekarang ini sangatlah menuai banyak masalah
Oleh: Andi Yahyatullah
Ketua BEM FEB Unismuh Periode 2021-2022/Aktivis IMM
TRIBUN-TIMUR.COM - Negara kita tidak sedang baik-baik saja. Tapi mahasiswa Makassar diam-diam saja.
Melihat kondisi nasional sekarang ini sangatlah menuai banyak permasalahan yang terbilang sangat kompleks, seperti kelangkaan minyak goreng, penghapusan premium hingga wacana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertamax baru-baru ini.
Namun, permasalahan-permasalahan pokok tersebut hanyalah permasalahan mendasar yang di maksudkan untuk mengalihkan fokus masyarakat secara umumnya mengenai wacana perpanjangan masa jabatan 3 periode Presiden Jokowi, yang dimaksudkan mencederai konstitusi Negara Indonesia.
Sehingga, hari ini kesadaran nasional tetap harus berfokus kepada isu sentral ini.
Wacana 3 periode Presiden Jokowi yang sengaja dilempar ke publik hanya untuk mengetahui sejauh mana keberterimaan masyarakat.
Baca juga: Opini Aswar Hasan: Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan
Ketika masyarakat tidak merespon, maka pemerintah menganggap ini adalah suatu pengaminan massal.
Namun, dari beberapa kalangan yang terbilang berpihak kepada bangsa dan memikirkan masa depan bangsa menilai wacana perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi selama 3 periode adalah melanggar konstitusi negara, sehingga beberapa kalangan menolak perpanjangan masa jabatan tersebut, termasuk beberapa lembaga kemahasiswaan.
Gerakan massa baru-baru ini terjadi di pusat kota, hal tersebut ditandai dengan adanya pamflet aksi massa yang bersebaran mengenai penolakan Jokowi selama 3 Periode, adapun gerakan massa tersebut termasuk BEM SI yang menginisiasi seruan aksi nasional melalui gerakan massa pada tanggal 28 Maret 2022, dan dilanjutkan Jumat 1 April yang bertitik kumpul di Kampus Trisakti. Ini menandakan bahwa kondisi nasional sekarang ini sedang tidak baik-baik saja.
Dalam sejarah pergerakan mahasiswa, sering saja tahun-tahun penting yang di mana berbicara mengenai kebijakan pemerintah yang sangat tidak pro terhadap masyarakat pasti saja disambut baik dan direspon oleh kaum-kaum idealis yang menyebut namanya sebagai mahasiswa di mana memantau dan mengawal nilai-nilai luhur bangsa ini.
Mengingat kembali sejarah pergerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia pada masa lampau yaitu Tahun 1908 kebangkitan kesadaran nasional melawan para penjajah yang menjajah bangsa ini, termasuk Jepang dan Belanda.
Tahun 1928 penyatuan tujuan Pemuda Indonesia, untuk melihat bangsa ini maju ke depannya, kemudian berlanjut memasuki Tahun 1945 pemuda mengawal kemerdekaan Indonesia.
Lalu memasuki Tahun 1966, kembali mahasiswa dan pemuda tergerak menggulingkan Presiden Soekarno yang sudah tidak mampu mengontrol keadaan bangsa dari permasalahan bangsa yang terjadi pada saat itu seperti Inflasi dan gejolak PKI yang ingin menguasai bangsa.
Tidak sampai di situ saja kembali lagi pada tahun 1998 di mana Presiden Soeharto adalah pemimpin bangsa yang sangat mengekang kebebasan berpendapat, dan mengubah konstitusi negara sesuai keinginannya saja, yang bertujuan menjadikan dirinya presiden selama 32 tahun lamanya.
Namun, hal ini dianggap masalah oleh kaum-kaum terdidik yang menyebut dirinya sebagai mahasiswa,sehingga terjadilah gerakan massa secara nasional untuk menurunkan Presiden Soeharto dari jabatannya.
Dalam konteks hari ini kembali Terulang, di mana Presiden Jokowi ingin mengubah Konstitusi Negara yang di mana sangat di nilai menciderai amanah Reformasi dan Konstitusi Negara Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)