Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Aswar Hasan

Opini Aswar Hasan: Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan

Dalam sambutannya, Prof JJ selaku Rektor Unhas menyatakan, bahwa sudah seharusnya Perguruan Tinggi mengapresiasi segenap karya jurnalistik pada Media.

aswar hasan
Aswar Hasan Dosen Fisipol Unhas - Penulis opini Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan 

Oleh: Aswar Hasan
Dosen Komunikasi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebuah statemen menarik terlontar dari Rektor Unhas, Professor Jamaluddin Jompa yang karib disapa Prof JJ Ketika memberi sambutan pada acara Diseminasi Indeks Kualitas Berita Lembaga Penyiaran, berdasarkan hasil kerja sama antara Unhas dan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat.

Dalam sambutannya, Prof JJ selaku Rektor Unhas menyatakan, bahwa sudah seharusnya Perguruan Tinggi mengapresiasi segenap karya jurnalistik pada Media Pers.

Pernyataan tersebut, sungguh strategis dan merupakan Strong Point yang bersifat simbiosis mutualisme antara media dan para ilmuan di perguruan tinggi dalam memajukan bangsa dan memperkuat negara.

Salah satu misi utama perguruan tinggi adalah mencerdaskan bangsa demikian pula halnya sebuah media pers. Jika perguruan tinggi merupakan tempat komunitas orang-orang (ilmuan) yang memproduksi prinsip kaedah ilmu pengetahuan dan etika, estetika, serta moral berkehidupan, maka media pers adalah wahana ideal untuk menyebarluaskan idealitas nilai-nilai dari perguruan tinggi tersebut dalam tataran bahasa yang sangat bisa dimengerti dengan baik oleh masyarakat luas.

Sayangnya, tidak semua sumber idealitas informasi dari perguruan tinggi tersebut, bisa terdiseminasi dengan baik secara meluas di tengah masyarakat, karena “bahasa” para ilmuan di perguruan tinggi masih sulit dimengerti oleh masyarakat luas (umum).

Terlebih lagi, jika perguruan tinggi memagari diri dengan “tembok tebal” atas nama ekslusivitasnya, di tengah masyarakat. Eksklusivitas posisi peran dan fungsi ilmuan di tengah masyarakat, telah menjadikan fungsi ilmu pengetahuan terasing dari masyarakat, demikian pula sebaliknya.

Tidak heran, jika kemudian Karl Mannheim dan Antonio Gramsci menuduh mereka sebagai pengkhianat, karena hanya bisa menyuarakan kebenaran dari menara gading ilmunya, tanpa terlibat dalam kerja-kerja praksis atau melakukan bentuk aktivisme sosial kolektif di masyarakat yang berada di luar tembok kampus (Farisi, 2021).

Senada dengan teriakan Paolo Freire bahwa pendidikan haruslah bisa membebaskan bukan justru membuat masyarakat semakin terpenjara. Masyarakat akan semakin terpenjara jika ilmu pengetahuan hanya menjadi kajian yang mengasyikkan oleh para ilmuannya di menara gading. Karenanya, ilmu pengetahuan jangan hanya tersimpan rapih di otak para ilmuan di perguruan tinggi, tanpa pernah terdiseminasi di tengah masyarakatnya.

Media Pers harus bisa menjadi dan dijadikan jembatan emas oleh perguruan tinggi dalam rangka menjangkau dinamika dan sengkarut problematika masyarakat.

Sebaliknya, media pers juga harus bisa memposisikan dan memfungsikan peran strategis kaum ilmuan di perguruan tinggi. Keduanya harus bisa secara mutual symbiosis dalam membebaskan dan mencerahkan masyarakat dari keterbelakangan.
Kalau selama ini para jurnalis memperoleh kecendekiaannya dalam mencerahkan masyarakat melalui Universitas Kehidupan, maka saat ini di era IPTEKSOSBUDKUM (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Sosial dan Budaya serta Hukum), jurnalis juga sudah harus karib dengan perguruan tinggi.

Bila perlu, perguruan tinggi membuka dan memberi kesempatan para jurnalis untuk mengenyam pendidikan vokasi untuk memperkaya wawasan IPTEKSOSBUDKUM para jurnalis.
Hal itu penting, agar supaya kaum jurnalis bisa lebih muda memahami bahasa akademik yang kerap terasing untuk memsyarakat.

Karibnya kaum jurnalis dengan perguruan tinggi juga akan lebih memudahkan bahasa akademik lebih memasyarakat, sekaligus mengikis sekat tembok tebal perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Tandem Jurnalis dan Ilmuan

Jika selama ini sebaran berita dan informasi kaum jurnalis melalui media massa lebih kerap dianggap tumpul dan tidak sampai memasalahkan hal yang subtansial dan tanpa tawaran solusi tapi hanya sarat dengan kritik yang acapkali justru menambah runyam subyek dan obyek permasalahan. Hal itu karena pemetaan dan pemahaman masalah oleh jurnalis kurang diperkaya dan diperkuat oleh argumentasi dari perspektif keilmuan oleh para ilmuwan di perguruan tinggi. Sementara itu, segudang solusi dan inovasi di perguruan tinggi hanya bertumpuk tak tersentuh untuk didiseminasi ke tengah masyarakat dalam bahasa masyarakat yang bisa dimegerti.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved