Opini Tribun Timur
Reuni
Kemenangan sebenarnya tak pernah terhenti usai Lebaran. Kemenangan itu bukan hanya sehari.
Di negeri-negeri modern luar sana, reuni barangkali tak pernah digelar.
Di Indonesia, reuni selalu menjadi urusan kelar di mana-mana.
Reuni pun sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dinegeri ini kian berkembang dari waktu ke tempo yang lain--kendatipun dunia sekolah kita tak kering sejumlah problem.
Kita simak, setiap tahun usai Lebaran, jumlah partisipan reuni terus bertambah.
Artinya, alumni-alumni sekolahan di segala tingkatan terus tumpah ruah setiap tahun.
Sayangnya, dinamika reuni dinegeri ini luput dari catatan kantor Badan Pusat Statistik.
Tetapi di sini kita segera tahu, bagaimana sekolah tak mampu mengajak orang-orang kembali ke kampung halamannya untuk berbakti dan mengabdi.
Sejumlah kaum terdidik dengan gelar titel mentereng menjauh dari kampung halamannya yang rudin dan miskin.
Mereka kembali ke kampung sekedar untuk berelebaran, silaturahmi dan reuni--bukan untuk membangun kampung yang terkurung kemunduran.
Sekolah memang sukses menghantarkan orang-orang menemukan pekerjaannya di luar sana.
Tetapi rupanya sekolah gagal mengajak orang ke kampung halaman untuk membangun kesejahteraan.
Di sini, sekolah terkesan mengisolasi manusia dari akar kulturalnya.
Untunglah ada reuni--setidaknya mengingatkan kita lagi tentang sekolah, tentang kultur kampung halaman.
Tetapi kadangkala, reuni menjadi pembeda kelas sosial sebenarnya.
Sebab ada yang datang dengan mobil bekas, ada yang hadir dengan kendaraan kantor, ada yang ikut dengan kendaraan rekannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora-45.jpg)