Opini Tribun Timur
Reuni
Kemenangan sebenarnya tak pernah terhenti usai Lebaran. Kemenangan itu bukan hanya sehari.
Abdul Karim
Majelis Demokrasi & Humaniora
Kemenangan sebenarnya tak pernah terhenti usai Lebaran. Kemenangan itu bukan hanya sehari.
Kemenangan berlanjut usai hari yang fitri, setidaknya kemenangan berkerumun dalam moment yang disepakati; “reuni”.
Kita alami itu, dan kita lihat itu merebak di Nusantara.
Mekarnya reuni sebagai rutinitas pasca lebaran menandakan banyak hal.
Paling umum, bahwa reuni memahamkan kita bagaimana perantauan tak pernah unggul dari kenangan.
Entah itu di perantauan sukses, entah itu di perantauan yang berlumur derita.
Di reuni, orang-orang berjumpa. Di reuni, orang berbagi kisah; mulai dari kisah di sekolah hingga kisah senang-getir di perantauan sana.
Di reuni orang-orang berpesta. Di reuni, orang-orang berjumpa dengan mantannya dan lawannya.
Di reuni semua saling bertanya; Kerja di mana? Berapa anak/cucu? Mengapa perutnya gendut? atau sebaliknya mengapa perutnya slim fit?
Serta pada reunipun orang-orang berkerumun bersolidaritas bersedekah untuk membantu sekolah masing-masing, terutama sekolah pelat hitam.
Semua itu menunjukkan bagaimana reuni tak sekedar sebagai perjumpaan kembali bekas teman, bekas rekan sependidikan.
Tetapi melampaui itu, reuni menjadi moment menegaskan bahwa sekolah punya makna humanitas yang berkualitas.
Reuni pula melambangkan bagaimana sekolah di negeri ini punya magnet sosial yang senantiasa merekatkan mereka yang pernah bersekolah dari TK hingga perguruan tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora-45.jpg)