Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Fase Akhir Ramadan Menyadari Kesalahan atau Memamerkan Kesalehan?

Ramadan yang juga dikenal sebagai bulan maghfirah (ampunan) seyogyanya dijadikan sebagai momentum untuk menyadari kesalahan.

Editor: Sudirman
zoom-inlihat foto Fase Akhir Ramadan Menyadari Kesalahan atau Memamerkan Kesalehan?
rizaldi
Muh Rizaldi, Alumni UIN Alauddin Makassar

Oleh: Muh Rizaldi

Alumni UIN Alauddin Makassar, Mahasiswa Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ramadan yang juga dikenal sebagai bulan maghfirah (ampunan) seyogyanya dijadikan sebagai momentum untuk menyadari kesalahan, bukan malah dijadikan panggung untuk memamerkan dan mengagungkan diri atas kesalehan (individu dan sosial).

Menjelang fase berakhirnya bulan Ramadan, agaknya kalimat di atas perlu untuk dijadikan sebagai bahan kontemplasi.

Melihat pola keberagamaan umat modern yang banyak disuguhi fasilitas media sosial yang dapat dengan mudah dijadikan panggung untuk “memamerkan” kesalehan individu ataupun kesalehan sosial.

Tanpa melakukan riset secara mendalam, kita sering menjumpai fenomena orang mengunggah momen ibadah umrah di media sosial.

Bukan hanya umrah, acap kali kita juga menjumpai orang mengunggah bentuk-bentuk kesalehan lainnya terlebih di bulan Ramadan, seperti momen tarawih bersama, tadarrusan hingga menunjukan bahwa dirinya telah berhijrah.

Godaan media memang tak jarang menjadi ujian juga. Pasalnya lewat media kita bisa mengunggah apa pun termasuk mungkin saja kesalehan kita.

Ini tentu menjadi syahwat batin yang begitu halus dan bisa jadi sering dilakukan namun tidak disadari.

Secara teologis, boleh-boleh saja seseorang curhat atau “memamerkan” aktivitas ibadahnya di media sosial.

Sebab, bisa jadi tujuannya hanya untuk memberikan motivasi kepada masyarakat virtual agar terdorong untuk melakukan amalan yang sama.

Namun, perlu untuk diingat bahwa antara ikhlas dan riya’ (pamer/pamrih) sangat sulit untuk dibedakan.

Salah seorang cendikiawan muslim, M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Islam yang Saya Anut; Dasar-dasar Ajaran Islam”, melukiskan dengan analogi semut hitam kecil yang berjalan di atas batu licin hitam di tengah gelapnya malam.

Analogi tersebut menunjukan bahwa, sangat sulit untuk mengidentifikasi perbuatan riya’. Sehingga, bisa jadi seseorang telah menganggap dirinya ikhlas, tapi di mata Tuhan justru sebaliknya.

Ibadah-ibadah yang telah kita jalankan di bulan Ramadan, boleh jadi akan terbilang sia-sia manakala kita terjebak dengan perangkap riya’ tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved