Opini Tribun Timur
Ramadan dan Demonstrasi Dalam Catatan Tuhan dan Catatan Arsip Bangsa
Tanpa terasa saat ini umat muslim telah sampai pada sepuluh hari kedua di Ramadhan 1443 Hijriah.
Selain Tuhan, tak ada sesuatu yang sempurna, telahan ukuran manusia tak luput dari kesalahan baik secara pribadi maupun berjamaah.
Rekaman Arsip secara nasional, baik dalam catatan konvensional dan jejak digital telah menunjukan perkembangan Republik yang kita cintai dalam sebuah statistik kenegaraan yang naik turun, nanjak dan melandai sebagai spontanitas efek ketika negara terperosok dalam lubang permasalahan yang melibatkan alat alat kenegaraan.
Indonesia ini pun kaya akan pengalaman bernegaranya yang menguji kedaulatan dan kepemimpinan negara, sebut saja Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, PKI Muso, PKI 1965, Pemberontakan Andi Azis, DI /TII.
Turunnya Presiden RI kedua, H.M. Soeharto ataupun Turunnya Presiden RI keempat, KH.Abdurrahman Wahid yang lebih dikenal dengan Gus Dur serta peristiwa peristiwa lainnya hingga yang masih hangat yaitu terkait polemik Masa Jabatan Presiden dan penundaan pemilu.
Dalam cerminan positif hal-hal yang terjadi diatas dianalogkan sebagai sebuah ujian dalam proses pembelajaran, jika lulus negara akan bertambah baik dan kuat, sebaliknya jika tidak lulus boleh jadi akan jatuh ke jurang kehancuran.
Yang tak kalah prestisius juga kompleksitas kejadian kejadian yang terjadi sejak masa awal lahirnya Indonesia hingga di zaman millenial ini selalu diwarnai dengan pergerakan mahasiswa dalam bentuk aksi demonstrasi yang memberi gambaran jelas tentang kondisi kemelut kenegaraan yang terjadi.
Walaupun pada sisi lain terkadang aksi demonstrasi yang terjadi menggambarkan dualisme prinsip, ada yang menentang, adapula yang mendukung.
Terlepas dari itu semua bahwa dalam negara demokrasi seperti Indonesia yang memiliki kemajemukan warga masyarakat dan ruang kepentingannya, dominasi dominasi ini dapat dimaklumi, inilah warna demokrasi tetapi dengan catatan bahwa tidak melanggar hukum dan konstitusi yang berlaku.
Demonstrasi pun secara positif menjadi indikator bahwa negara membutuhkan keseimbangan dalam mengejewantahkan kewajiban negara yang perlu dilihat, dirasakan, dinilai dan dievaluasi oleh masyarakat.
Berarti demonstrasi (damai) merupakan tindakan cerdas secara intelektual maupun emosional dalam mendiagnosa virus atau bakteri yang dapat menggerogoti badan dan jiwa bangsa ini.
Dan dalam catatan sejarah bangsa yang tertuang dan dapat dilihat pada lembar demi lembar arsip bangsa yang tercipta , aksi demonstrasi pun selalu berakhir dengan suatu keberhasilan dalam mempertahankan bangsa ini tetap pada rel rel demokrasi yang benar dan berpihak kepada rakyat.
Perjuangannya pun melalui proses yang panjang dan tak sedikit pula yang menjadi korban , kata pepatah dalam sebuah perjuangan pasti butuh pengorbanan, inilah letak kemuliaannya.
Pada sebuah titik kesimpulan, bahwa proses Kebangsaan dan pemerintahan akan terus berjalan, berproses, berputar bersama roda zaman menuju Indonesia yang lebih maju dan bermartabat, Indonesia yang Baldatun thoyyibatun Warabbun Ghafur.
Kompilasi informasi bangsa ini pastinya akan melekat pada arsip arsip yang memberkas secara rapi membentuk kolase bangsa dan negeri ini menjadi legacy bagi anak dan cucu kita dikemudian hari.
Pastinya sebuah keniscayaan bahwa demonstrasipun masih akan menjadi tindakan cerdas dalam mengawal aktivitas bangsa ini dalam sebuah kepemimpinan demi kepemimpinan yang telah digariskan dalam CATATAN TUHAN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Irzal-Natsir-Arsiparis-Ahli-Madya-Pemprov-Sulsel-12.jpg)