Opini Tribun Timur

Ramadan dan Demonstrasi Dalam Catatan Tuhan dan Catatan Arsip Bangsa

Tanpa terasa saat ini umat muslim telah sampai pada sepuluh hari kedua di Ramadhan 1443 Hijriah.

Editor: Sudirman
Irzal Natsir
Irzal Natsir, Arsiparis Ahli Madya Pemprov Sulsel 

Oleh: Irzal Natsir

Arsiparis Ahli Madya Pemprov Sulsel

Tanpa terasa saat ini umat muslim telah sampai pada sepuluh hari kedua di Ramadan 1443 Hijriah.

Sesuai Hadist bahwa sepuluh hari yang kedua ini merupakan etape pengampunan bagi setiap muslim dan muslimah yang melaksanakan salah satu dari Rukun Islam ini.

Sebuah gambaran dari kasih sayang Allah SWT yang secara spesial menyiapkan bulan yang spesial bagi hamba-hambanya yang ingin mencari ridho dan pahala yang berlipatganda dengan memanfaatkan Ramadhan.

Ini sebagai sarana dan fasilitas dalam mengupgrade keimanan umat muslim untuk merebut mahkota ketakwaan dari Tuhan pemilik semesta alam.

Hal ini sejalan dengan firman yang Allah sampaikan pada surat Al Baqarah: 138 yang artinya: "Hai orang-orang ysng beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kalian bertaqwa".

Ramadan pun menjadi bulan tuk bermuhasabah diri mengevaluasi kesalahan, kekeliruan, kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam menjalani aktivitas kehidupan dan kehambaan kita.

Sejatinya dipertemukan kita dengan ramadhan menjadi sebuah karunia yang sangat luar biasa dari Allah yang memberikan kita kesempatan untuk meningkatkan kadar kualitas iman kita yang mestinya lebih baik dari sebelumnya.

Penelitian medispun memberi bukti bahwa ibadah puasa yang dilaksanakan secara baik akan berimplikasi pada tingkat ketenangan hati yang tinggi.

Sehingga mampu menciptakan kedekatan spiritual dengan Sang Rabb, mengasah kecerdasan emosional terhadap sesama makhluk dan juga memberi dampak pada kecerdasan intelektual, interaksional dan komunikasi yang lebih baik.

Hal ini berarti ramadhan dapat memberikan kenaturalan dan kemurnian akal sehat manusia sebagai hamba Tuhan yang takut berbuat salah dan suka berbuat kebaikan dan kebenaran.

Perjalanan manusia yang lebih hakiki sebagai makhluk Tuhan menjadi rahasia dan misteri Ilahi yang terekam dalam catatan Tuhan yang super cerdas, tersimpan secara maha sempurna tanpa berkurang senoktah pun dalam menilai perilaku kita dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Jika kita mencoba melihat pada dimensi kearsipan saat ini, Allah sebagai pemilik hak prerogatif menentukan takdir langit, bumi dan seluruh isinya niscaya memiliki arsip-arsip makhluknya yang tersimpan rapi mulai awal kehidupan hingga saat ini bahkan hingga berakhirnya kehidupan ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved