Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Ojigi-Tabe: Perbandingan Budaya Hormat Masyarakat Jepang dan Sulsel

Ekspresi hormat menghormati merupakan perwujudan dari tata krama dan penghargaan kepada sesama, terutama di budaya Timur.

Tayang:
Editor: Sudirman
Aulia Maydiza, SMAS Celebes Global School
Aulia Maydiza, SMAS Celebes Global School 

Eshaku pada dasarnya membungkukan badan sedikit saja. Gerakan ini dilakukan untuk memberi salam kepada orang yang dikenal tetapi tidak terlalu akrab.

Atau bisa juga, digunakan oleh atasan untuk membalas ojigi dari bawahannya. Tata cara ojigi lainnya adalah, lain yaitu keirei.

Tata cara ini dilakukan dengan membungkuk penuh hormat. Ojigi ini dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat kapada atasan atau orang lain yang usianya lebih tua.

Keirei juga digunakan dalam upacara resmi, ucapan terima kasih dan satu bentuk menunjukkan simpati kepada orang lain.

Jenis ojigi yang terakhir adalah saikeirei. Ojigi yang satu ini dilakukan untuk menunjukkan perasaan menyesal yang sangat mendalam terhadap orang lain.

Saikeirei juga dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat yang besar tehadap orang dengan statusnya jauh lebih tinggi seperti kaisar atau pemimpin negara.

Selain di Jepang, budaya ekspresi penghormatan juga dipraktekkan dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan.

Di daerah ini, ada tradisi yang disebut dengan budaya tabe. Tradisi tabe merupakan tradisi turun temurun sebagai simbol sopan santun kepada sesama manusia khususnya kepada yang lebih tua.

Implentasi budaya tabe tidak hanya terbatas dalam bentuk ucapan tetapi juga dilakukan melalui gerakan.

Dalam pengucapan kata tabe, kata ini bermakna dan berarti permisi menjadi simbol bentuk penghormatan kepada sesama.

Praktek budaya tabe melalui gerakan dilakukan dengan juga dengan membungkukan badan dan tangan kanan turun ke bawah mengarah ke tanah.

Sikap ini merupakan simbol upaya menghargai dan menghormati siapapun orang di hadapan kita.

Dalam prakteknya sekarang, budaya tabe digunakan masyarakat di Sulawesi Selatan ketika melewati orang-orang sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja terganggu dengan kita, meski tidak bermaksud demikian.

Walaupun terkadang terlihat sepele, tetapi budaya tabe ini memiliki makna dalam. Tradisi ini melambangkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang diharapkan hidup harmonis dengan sesama.

Melalui tradisi ini juga akan muncul rasa saling menghargai.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved