Opini Tribun Timur
Antitesis Child Free: Suara dari Jerman
Akhir-akhir ini sederetan artis dan influencer memutuskan untuk tidak memiliki anak biologis setelah menikah.
Mereka bermigrasi sebagai pekerja dan buruh bangunan setelah Jerman kalah perang dunia.
Mereka datang berbondong-bondong membawa serta budaya dan agamanya lalu meminta pemerintah Jerman memenuhi kebutuhan peribadatan dan pangannya.
Rumah potong hewan halal dibuka. Makanan dan minuman berlogo halal mudah ditemui di supermarket.
Izin usaha pemilik restoran menu halal didirikan berdampingan dengan restoran lokal. Masjid megah bergaya Ottoman tersebar hampir di seluruh pelosok negeri Jerman.
Implikasi
Jika anak muda Jerman tetap ngotot dengan idealisme child free ini, perlahan demografi Jerman akan bergeser, bukan lagi didominasi oleh keturunan Jerman.
Seperti saat ini, per tahun 2022, nama-nama tipikal muslim banyak ditemukan di daftar presensi sekolah dasar.
Taman bermain didominasi anak berambut hitam ikal dan berkulit coklat.
Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah Jerman harus menaikkan birth rate hingga 2.1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Nurbiah-Permatasari-Nurdin.jpg)