Opini Tribun Timur
Antitesis Child Free: Suara dari Jerman
Akhir-akhir ini sederetan artis dan influencer memutuskan untuk tidak memiliki anak biologis setelah menikah.
Nurbiah Permatasari Nurdin
Diaspora Muda Jerman asal Makassar, Tinggal di Kota Duisburg
Akhir-akhir ini sederetan artis dan influencer memutuskan untuk tidak memiliki anak biologis setelah menikah.
Gita Savitri, influencer muda yang berdomisili di Jerman, berpandangan bahwa anak membutuhkan tanggung jawab besar.
Ia khawatir anak yang akan dilahirkan menjalani kehidupan yang semakin rumit dan kejam.
Sedikit berbeda, Cinta Laura, artis berdarah Jerman, memilih mengadopsi karena prihatin melihat anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Alhasil, banyak netizen Indonesia yang beranggapan bahwa child free adalah keputusan lazim bagi banyak pasangan di Jerman.
Mari kita telaah, bagaimana pemerintah Jerman memandang fenomena Child Free?
Pemerintah Jerman sebenarnya menyediakan "hadiah" untuk tiap anak yang baru lahir hingga berusia 18 tahun.
Anak pertama dan kedua akan mendapatkan 219 Euro/bulan (Rp3.481.432,72). Anak ketiga akan mendapatkan 225 Euro/bulan (Rp3.576.814,44).
Elterngeld atau Parents Allowance ini memberikan kesempatan kepada para orang tua agar fokus merawat anak di tahun pertama tanpa khawatir dengan kondisi finansial karena pemotongan gaji (dampak jam kerja berkurang karena mengasuh anak).
Aturan ini juga berlaku bagi pendatang yang memilih harus menetap lama di Jerman, seperti mahasiswa berkeluarga.
Selain itu, pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi pun gratis. Akses kesehatan juga dibuat mudah dengan diwajibkannya asuransi kesehatan bagi siapa saja.
Cukup membayar sekitar 250 Euro/bulan (Rp3.974.238,27) per keluarga, dengan jumlah anak tidak terbatas.
Para Ayah juga mendapat jatah cuti Elternzeit untuk mendampingi Ibu di masa menyusui.
Sayangnya, semua kemudahan ini belum bisa meyakinkan warga Jerman untuk memiliki anak.
Birth rate di tahun ini hanya berkisar 1,53 per perempuan, artinya rata-rata seorang perempuan hanya melahirkan 1,53 kali saja.
Lebih rendah dibanding Belanda dan Belgia. Kebanyakan keluarga usia produktif beranggapan memiliki anak bukanlah sebuah target hidup yang harus dicapai.
Mereka lebih memilih menginvestasikan waktu di dunia akademik atau berkarir secara profesional.
Untuk urusan sex, mereka memandangnya sebagai hiburan di tengah rutinitas.
Easy to get, tanpa harus menikah. Hal ini diperkuat oleh legalisasi bisnis prostitusi yang dipergunakan oleh lebih dari 1 juta pria per hari.
Bagi masyarakat Jerman, hubungan seksual tidak terintegrasi dalam konsep keluarga dan persiapan generasi penerus.
Sejalan dengan idealisme para pengusung child free yang tidak mengkhawatirkan keberlangsungan generasi penerus.
Usia produktif yang aktif bekerja di Jerman harus rela dengan potongan pajak penghasilan sebesar 30% - 45%.
Potongan sebesar ini adalah subsidi silang terhadap jaminan sosial hari tua generasi sebelumnya dan jaminan kesehatan dan pendidikan generasi setelahnya; pendidikan gratis ditopang oleh pajak ini.
Lalu apa konsekuensi jika generasi ini memilih child free? Di masa tua nanti, negara akan kekurangan pasokan pajak dari warga usia produktif.
Tidak ada regenerasi. Sehingga jaminan masa tua mungkin tidak memadai bahkan tidak ada sama sekali.
Sekarang jelaslah alasan Jerman membuka gerbang bagi pengungsi dari negara perang seperti Suriah (Syria).
Pandangan bahwa muslim cenderung membangun keluarga dan memiliki banyak anak adalah solusi bagi rendahnya birth rate di Jerman.
Saat ini populasi muslim terbesar di Jerman adalah bangsa Turki.
Mereka bermigrasi sebagai pekerja dan buruh bangunan setelah Jerman kalah perang dunia.
Mereka datang berbondong-bondong membawa serta budaya dan agamanya lalu meminta pemerintah Jerman memenuhi kebutuhan peribadatan dan pangannya.
Rumah potong hewan halal dibuka. Makanan dan minuman berlogo halal mudah ditemui di supermarket.
Izin usaha pemilik restoran menu halal didirikan berdampingan dengan restoran lokal. Masjid megah bergaya Ottoman tersebar hampir di seluruh pelosok negeri Jerman.
Implikasi
Jika anak muda Jerman tetap ngotot dengan idealisme child free ini, perlahan demografi Jerman akan bergeser, bukan lagi didominasi oleh keturunan Jerman.
Seperti saat ini, per tahun 2022, nama-nama tipikal muslim banyak ditemukan di daftar presensi sekolah dasar.
Taman bermain didominasi anak berambut hitam ikal dan berkulit coklat.
Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah Jerman harus menaikkan birth rate hingga 2.1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Nurbiah-Permatasari-Nurdin.jpg)