Opini Tribun Timur
Antitesis Child Free: Suara dari Jerman
Akhir-akhir ini sederetan artis dan influencer memutuskan untuk tidak memiliki anak biologis setelah menikah.
Sayangnya, semua kemudahan ini belum bisa meyakinkan warga Jerman untuk memiliki anak.
Birth rate di tahun ini hanya berkisar 1,53 per perempuan, artinya rata-rata seorang perempuan hanya melahirkan 1,53 kali saja.
Lebih rendah dibanding Belanda dan Belgia. Kebanyakan keluarga usia produktif beranggapan memiliki anak bukanlah sebuah target hidup yang harus dicapai.
Mereka lebih memilih menginvestasikan waktu di dunia akademik atau berkarir secara profesional.
Untuk urusan sex, mereka memandangnya sebagai hiburan di tengah rutinitas.
Easy to get, tanpa harus menikah. Hal ini diperkuat oleh legalisasi bisnis prostitusi yang dipergunakan oleh lebih dari 1 juta pria per hari.
Bagi masyarakat Jerman, hubungan seksual tidak terintegrasi dalam konsep keluarga dan persiapan generasi penerus.
Sejalan dengan idealisme para pengusung child free yang tidak mengkhawatirkan keberlangsungan generasi penerus.
Usia produktif yang aktif bekerja di Jerman harus rela dengan potongan pajak penghasilan sebesar 30% - 45%.
Potongan sebesar ini adalah subsidi silang terhadap jaminan sosial hari tua generasi sebelumnya dan jaminan kesehatan dan pendidikan generasi setelahnya; pendidikan gratis ditopang oleh pajak ini.
Lalu apa konsekuensi jika generasi ini memilih child free? Di masa tua nanti, negara akan kekurangan pasokan pajak dari warga usia produktif.
Tidak ada regenerasi. Sehingga jaminan masa tua mungkin tidak memadai bahkan tidak ada sama sekali.
Sekarang jelaslah alasan Jerman membuka gerbang bagi pengungsi dari negara perang seperti Suriah (Syria).
Pandangan bahwa muslim cenderung membangun keluarga dan memiliki banyak anak adalah solusi bagi rendahnya birth rate di Jerman.
Saat ini populasi muslim terbesar di Jerman adalah bangsa Turki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Nurbiah-Permatasari-Nurdin.jpg)