Opini
Membayangkan Sulsel Tanpa Wakil Gubernur
Tentunya banyak pertimbangan yang mesti tetap dilakukan sebelum menentukan Pasangan tersebut layak untuk didorong maju.
Kita masih ingat bagaimana 10 Tahun di 2 periode kememimpinan pemerintahan sebelumnya. SYL dan AAN sanggup menciptakan keharmonisan hingga akhir periode. Bahkan sebelumnya walau saling berhadapan di pilgub diujung periodenya, namun Amin Syam - SYL, Gubernur dan Wakil Gubernur ini masih kompak menyelesaikan masa jabatan mereka. Sebab hemat saya, mereka mungkin sangat paham bahwa satu kepala yang berfikir, itu tak akan mungkin mengalahkan ketika ada dua kepala yang saling bertukar ide.
Dua isi kepala yang sanggup meredam ego, dan dua orang yang saling berdialektika bagi kemaslahatan ummat hingga akhir masa jabatannya, akan selalu lebih baik dari satu kepala yang bekerja ekstra memikirkan menyelesaikan jabatan, dan mungkin persiapan melanjutkan dua periode jika tak ada aral melintang.
Alasan bahwa ada Sekda dan beberapa pejabat penting lainnya yang akan mendukung pemerintahan walau tanpa Wagub.
Ini akan jadi catatan sejarah dan berpotensi akan menjadi bahan cerita generasi mendatang sebagai tindakan mengarah gegabah.
Petahana Rasa Penantang
Cepat atau lambat, publik di Sulsel akan tahu kebenaran cerita dibalik tak adanya Wagub Sulsel hingga akhir periode. Ini berpotensi menimbulkan stigma kurang bagus yang lazim di istilahkan "One Man Show".
Dan bisa jadi disaat itu pula akan berimbas pada turunnya elektabilitas Gubernur jika masih hendak maju di periode selanjutnya.
Apatahlagi nama-nama bakal penantang yang didesas-desuskan itu punya kemampuan melibas petahana dengan peluang kemenangan tipis pada akhirnya. Para penantang ini punya kemampuan mumpuni mengalahkan petahana, dimana mereka mengantongi keuntungan awal yakni minimnya figur kharismatik dan punya nilai jual tinggi seperti Prof Nurdin Abdullah.
Kemampuan Adnan Purichta Ichsan dari Gowa dan Indah Putri Indriani dari Lutra menjadi idola kaum millenial di era digital sekarang ini tak boleh dinafikan. Mereka mampu menjadi selebritis dunia maya bagi kaum Millenial di Sulawesi Selatan.
Pada level ketua Parpol, RMS, TP dan AIA adalah figur yang hampir pasti menjadi pemegang tiket berkompetisi di Pilgub 2024.
Tak usah membahas soal pengalaman keduanya dalam mengelola pemerintahan, dua periode mereka memimpin Kabupaten/ Kota dan beberapa penghargaan di level nasional cukup untuk menasbihkan kelayakan mereka memimpin Sulsel.
Dan AIA yang mampu menjaga elektabilitas dan kecintaan para pendukung di Dapilnya, adalah modal politik yang meligitimasi kesiapannya sebagai Figur calon suksesor Gubernur sekarang di Pilgub serentak 2024.
Kita tetap mencoba untuk menaruh optimisme tinggi dari apapun pilihan Plt Gubernur sekarang ini. Dengan memilih didampingi Wakil adalah hal yang baik. Namun jika memilih untuk tak didampingi seorang wakil itu adalah pilihan yang mesti kita hargai dan apresiasi.
Kita berharap bahwa Plt Gubernur dengan pengalaman dan pengetahuan selama ini, akan mampu membawa Sulsel ini kearah yang lebih baik.
Sebagai penutup, Mengutip kata Talcott Parsons, "masalah pengetahuan pelaku memang tidak banyak diperhatikan, namun kekurangan ini ditutupi oleh diskusi-diskusinya yang sangat berpengaruh tentang rasionalitas".
Namun ini tak boleh dijadikan rujukan penuh oleh Gubernur seputar pengetahuannya dalam pemerintahan dan pengalaman bertarung langsung dilevel minim. Nyaris terpenuhinya syarat awal dari beberapa gambaran diatas, sangat memungkinkan 2024 menghadirkan suasana Petahana rasa penantang.
Wallahu A'lam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anshar-8757576.jpg)