Opini
Membayangkan Sulsel Tanpa Wakil Gubernur
Tentunya banyak pertimbangan yang mesti tetap dilakukan sebelum menentukan Pasangan tersebut layak untuk didorong maju.
Anshar Aminullah
Mahasiswa PPs UI
SALAH satu aktivitas utama yang menjadi pekerjaan seorang calon Gubernur bersama timnya adalah memikirkan dan melobby Tokoh dengan popularitas mumpuni untuk dilamar menjadi calon Wakil Gubernur yang siap mendampingi.
Tentunya banyak pertimbangan yang mesti tetap dilakukan sebelum menentukan Pasangan tersebut layak untuk didorong maju.
Ini proses episode awal yang tak mesti kita urai kontekstualitas tindakan dilevel struktur tim sukses mereka. Meski ini juga tak boleh dianggap sebagai salah satu aktivitas dan geliat remeh dalam tim.
Episode kedua adalah semacam Ujian lanjutan yang mereka harus lalui. Biasanya cukup berat pasca mereka telah memenangkan pemilihan.
Entah karena pembagian tugas dan wewenang, pembagian jabatan kadis dan lainnya.
Atau pembagian-pembagian tertentu yang agak sensitif dan menimbulkan ketersinggungan, dimana masing-masing membela sentralitas perannya.
Ketersinggungan itu kemudian melahirkan respon kejut tertentu. Misalnya kita dapati keretakan hubungan terjadi di 3-4 bulan awal atau sebelum menyentuh usia setahun yang terbawa hingga akhir periode.
Di salahsatu Kabupaten di Sulsel malah dalam hitungan tak sampai dua bulan pasca pelantikan, Sang wakil sudah senter terpublikasi akan maju menjadi calon Bupati.
Tak kalah menarik perihal fenomena yang riil dari ketakprediksian atas kejadian luarbiasa yang selalu berpotensi menimpa salah satu dari kedua orang dipasangan pemerintahan ini. Peristiwa OTT yang menimpa Gubernur NA beberapa waktu lalu memang cukup menghambat upaya gerak maju pemerintahan dan pembangunan.
Fungsi pengambilan keputusan secara kolektif demi kebaikan Sulsel yang merupakan aktivitas perwujudan upaya pencapaian janji politik mereka yang tertuang dalam uraian Visi dan Misi, mengalami kebuntuan sesaat. Untunglah Wakil Gubernur saat itu bisa tetap fokus dan mengambil langkah yang cepat dan tepat dalam menjaga stabilitas pemerintahan Provinsi.
Di episode ketiga ini, rupanya ujiannya berbeda kondisi. Mencari calon Wakil Gubernur yang menggantikan posisinya oleh karena regulasi yang membuat plt Gubernur harus naik kelas menjadi orang pertama di Sulsel.
Jika dicermati sepintas, seperti ada kondisi alot atau mungkin 'kebuntuan' menentukan figur yang pas.
Calon Wakil Gubernur pengganti ini memang bukan saja mengenai perwujudan dan representasi keterwakilan Parpol pengusung, namun lebih dari itu, Gubernur butuh pendamping yang handal dan kuat dalam Ide, jaringan dan kemampuan leadership dalam mencari solusi bagi kompleksitas persoalan sosial kemasyarakatan di Sulsel.
Dilema Pilihan Bermain Solo atau Berduet?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anshar-8757576.jpg)