OPINI
Omicron yang Mengancam
Tidak berselang lama sejak varian delta mengejutkan dunia, varian baru Covid-19, omicron, hadir dengan ancaman yang lebih serius
Opini oleh Dr Hairuddin K., SS, SKM, M.Kes (Wakil Rektor IV Universitas Megarezky)
Tidak berselang lama sejak varian Delta mengejutkan dunia, varian baru Covid-19, omicron, hadir dengan ancaman yang lebih serius.
Ditemukan pertama kali di Bostwana dan Afrika Selatan, kini omicron telah tertransmisikan hingga ke negara-negara Asean dan Australia, negara yang mengapit negara kita.
Omicron dianggap lebih memiliki tingkat penularan yang tingga dibanding varian delta.
Tingkat penularan yang lebih tinggi menjadikan Omicron terkategorikan sebagai Variant of Concern (VOC).
VOC bermakna varian omicron lebih berbahaya, ganas dan penularan yang lebih cepat dan luas.
Pengumunan oleh WHO ini membuat banyak negara memberlakukan pengetatan perbatasan khususnya mereka yang dianggap berasal dari negara dimana Omicron berasal, seperti Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini,Nigeria, Hongkong dan negara lain yang telah terpapar varian Omicron .
Intervensi sosial dan kesadaran warga negara untuk tetap menjalankan protokol kesehatan adalah jaminan bagi upaya preventif mencegah varian Omicron menyebar di negara kita. Intervensi sosial berupa regulasi pengetatan perjalanan keluar masuk bagi warga asing sangat dibutuhkan.
Pengetatan mudik natal dan tahun baru juga mesti ditingkatkan.
Aparatur yang bertanggung jawab harus konsisten dan bersinergi agar ada kesatuan langkah dalam menjalankan aturan.
Kesadaran warga negara untuk kembali menerapkan secara ketat protokol kesehatan diharapkan menjadi kesadaran kolektif.
Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan karena transmisi bahkan mutasi virus Covid-19 bisa dihentikan jikalau seseorang melakukan pengetatan prosedur kesehatan.
Intervensi sosial tanpa didukung kesadaran kolektif warga dapat membawa bangsa ini memasuki gelombang ke-3 Covid-19.
Munculnya varian omicron disaat upaya vaksinasi belum mencapai target yang diinginkan tentu saja menambah besar resiko penyebaran dan fatalitas pandemi.
Ketersediaan vaksin yang masih belum merata secara global membuat banyak bangsa berada dalam resiko yang besar.