Opini Tribun Timur
Mewujudkan kebahagiaan Lansia Butuh Peran Negara
Belakangan ini masyarakat khususnya netizen dihebohkan dengan viralnya pemberitaan seorang ibu lanjut usia dititipkan oleh tiga ke Panti Jompo.
Akibatnya, aktivitas merawat atau menjaga orang tua dengan penuh kasih sayang dipandang sebelah mata, bahkan dianggap membuang-buang waktu.
Padahal ia merupakan aktivitas mulia. Dan sungguh mengkhawatirkan jika negara lepas tanggung jawab dalam persoalan ini.
Peran Negara
Hidup bahagia tentu menjadi idaman setiap manusia khususnya orangtua di usia lanjut. Dan hal ini tentu membutuhkan solusi. Ada dua hal bisa dilakukan :
Pertama, harus ada pemahaman bahwa orang tua harus dimuliakan, harus bahagia. Tentu ini lahir, semata-mata karena ketaatan kepada Allah SWT.
Di dalam al-Qur’an Allah SWT telah memuliakan kedudukan orangtua dan secara khusus bagi seorang ibu berdasarkan sunnah Rasul Saw.
Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan demi Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (TQS. al-Israa [17]:23)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa diantara manusia yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan persahabatanku? Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ibumu.” “Dan setelah itu?”Rasul menjawab, “Bapakmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam Islam, kedudukan orangtua sangat mulia. Tidak diukur secara ekonomi. Tidak dinilai dengan materi atau rupiah.
Tetapi, kemuliaan itu dengan membahagiakan mereka sebagaimana sang pencipta yaitu Allah SWT perintahkan.
Kedua, butuh peran negara. Dalam Islam, tatkala orangtua ditelantarkan oleh anaknya. Tentu, ini bentuk kemaksiatan.
Negara hadir untuk mencegah kemaksiatan itu, menegur hingga memaksa anak-anak untuk merawat orangtuanya.
Jabir bin Abdullah berkata, “Seseorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta dan anak, sementara ayahku juga membutuhkan hartaku.
“Maka beliau bersabda: “Engkau dan hartamu milik ayahmu”(HR Ibnu Majah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/trisnawaty-a.jpg)