Breaking News:

OPINI

Kesetaraan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, namun juga berdampak terhadap masalah kesehatan jiwa.

Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Kens Napolion, SKp,.M.Kep,.Sp.Kep.J, Akademisi & Praktisi Keperawatan Kesehatan Jiwa StiKes Panakkukang 

Opini oleh Kens Napolion, SKp,.M.Kep,.Sp.Kep.J, Akademisi & Praktisi Keperawatan Kesehatan Jiwa StiKes Panakkukang

Permasalahan kesehatan jiwa sampai saat ini telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat, baik secara global maupun nasional.

Terlebih di masa pandemi covid-19, di mana permasalahan kesehatan jiwa ini semakin berat untuk diselesaikan.

Pandemi covid-19 ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, namun juga berdampak terhadap masalah kesehatan jiwa.

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018) dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi gangguan emosional pada penduduk berusia 15 tahun ke atas, meningkat dari 6% di tahun 2013 menjadi 9,8% di tahun 2018.

Prevalensi penderita depresi di tahun 2018 sebesar 6,1%.

Sementara itu prevalensi gangguan jiwa berat, skizofrenia meningkat dari 1,7% di tahun 2013 menjadi 7% di tahun 2018.

Tema Global peringatan hari kesehatan jiwa Sedunia tahun 2021 ini adalah “Mental Health in an Unequal World” : Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua”.

Tema tersebut mengamanahkan pada setiap Negara agar lebih memberikan akses layanan yang lebih besar dan luas, agar kesehatan mental masyarakat lebih terjamin dan setara dengan kesehatan fisik lainnya.

Selain itu meningkatnya polaritas di dunia, terkait kesenjangan si kaya dan si miskin. WHO melihat adanya ketidaksetaraan akses ke kesehatan mental.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved