Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Gempa

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,9 menggoyang daerah Kabupaten Majene dan Mamuju.

Editor: Edi Sumardi
TRIBUN TIMUR
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora (MDH) Sulsel, Abdul Karim 

Cara pandang ilmu pengetahuan terhadap gempa bersumber dari mana pun, atau diputar bagaimanapun ujung-ujungnya adalah ketentuan alam.

Gempa dipandang sebagai fenomena alam yang bergiliran laksana arisan.

Namun, cara pandang agama gempa adalah; ujian penderitaan hingga laknat bak ternak.

Di satu sisi, keimanan memang terpaut erat dengan penderitaan.

Kita lihat sejarah kenabian, penderitaan utusan-utusan Allah itu sungguh tak terkira.

Mereka hadir di tengah lara manusia, mereka diutus ditengah kehidupan watak manusia yang laksana binatang.

Kerakusan dan kebengisan bercampur baur ditengah kaum.

Tuhan tak pernah dipertuhankan.

Yang dipertuhankan adalah materi.

Kita temukan kasus itu misalnya dalam kisah kaum Tsamud dan Nabi Saleh AS.

Kaum Tsamud menolak kebenaran Nabi Saleh AS yang juga berarti menolak Tuhan Yang Maha Esa. Gempa lalu datang menghancurkan kaum pongah itu.

Dari sini kita petik hikmah bahwa sejarah gempa adalah tentang keimanan dan ketuhanan.

Ia bukan bencana alam semata, tetapi ia adalah cambukan bagi kaum pendusta, kaum penyembah materi yang mengingkari kehadiran Tuhan ditengah eksistensi mahluk.

Gempa adalah tempaan daya tahan mahluk dan kekuatan iman hamba.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved