Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Gempa

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,9 menggoyang daerah Kabupaten Majene dan Mamuju.

Editor: Edi Sumardi
TRIBUN TIMUR
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora (MDH) Sulsel, Abdul Karim 

Abdul Karim

Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora (MDH) Sulsel

CORONA berlalu di Sulbar entah beberapa saat.

Ia jauh dari bibir orang-orang pada Kamis (14/1/2021) di siang bolong.

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,9 menggoyang daerah Kabupaten Majene dan Mamuju.

Gempa itu merubuhkan sejumlah gedung dan rumah-rumah warga.

Batin warga masih diliputi kecemasan.

Esoknya, Jumat (15/1/2021) dini hari terjadi lagi gempa yang lebih dahsyat dibanding sebelumnya.

Kekuatannya 6,2 SR.

Korban bergelimpangan.

Data Badan SAR Nasional ( Basarnas ) hingga Selasa (19/1/2021) menyebut, sebanyak 84 orang meninggal akibat gempa bumi yang melanda Bumi Mandar itu.

Mereka terdiri dari 73 orang di Mamuju dan 11 orang di Majene.

Sejenak, virus corona tak berdaya.

Ia menjauh dari perbincangan orang-orang.

Vaksin yang hendak disuntikkan ke tubuh warga yang kontroversial itu—di Sulbar tak terdengar lagi di sana.

Yang ada adalah jeritan tangis kesedihan, rintihan kesakitan, kedukaan yang menyelimuti, runtuhan bangunan yang ambruk, hingga tatapan masa depan yang kabur.

Di medsos, situasi itu beredar luas sampai jauh.

Di ruang lain, kita simak solidaritas kemanusiaan mengalir deras ke sana.

Bantuan kemanusian—terutama logistik—dihimpun sekumpulan warga dengan insiatif tak macama-macam kecuali untuk kemanusiaan.

Donasi itu diharap menjadi pelipur lara kedukaan warga.

Sayangnya, sempat terbit sengketa perebutan bantuan logistik ditengah jalan.

Beruntunglah situasi itu berlangsung sebentar sahaja dan tak terulang di tempat lain.

Dan hingga hari ini, bantuan kemanusiaan terus mengalir ke sana, hingga sampai di sana.

Namun, kita sempat kecewa dengan keterlambatan pemerintah bergerak di sana.

Alat-alat berat tak digerakkan sekejap.

Ketika pemerintah telah hadir membuka posko bantuan disana warga malah tak menemukan solusi lantaran “prosedur birokrasi”.

Konon, warga yang hendak meminta bantuan logistik disyaratkan menyertakan Kartu Keluarga (KK).

Bagaimana mungkin selembar kertas itu diselamatkan di saat nyawa terancam tak selamat karena gempa?

Dan bagaimana mungkin menemukan kertas KK itu di tengah reruntuhan bangunan rumah yang rubuh porak-poranda?

Begitulah birokrasi, ia kadang tak mengenal kemanusiaan, namun begitu intim dengan tuannya.

Cara pandang ilmu pengetahuan terhadap gempa bersumber dari mana pun, atau diputar bagaimanapun ujung-ujungnya adalah ketentuan alam.

Gempa dipandang sebagai fenomena alam yang bergiliran laksana arisan.

Namun, cara pandang agama gempa adalah; ujian penderitaan hingga laknat bak ternak.

Di satu sisi, keimanan memang terpaut erat dengan penderitaan.

Kita lihat sejarah kenabian, penderitaan utusan-utusan Allah itu sungguh tak terkira.

Mereka hadir di tengah lara manusia, mereka diutus ditengah kehidupan watak manusia yang laksana binatang.

Kerakusan dan kebengisan bercampur baur ditengah kaum.

Tuhan tak pernah dipertuhankan.

Yang dipertuhankan adalah materi.

Kita temukan kasus itu misalnya dalam kisah kaum Tsamud dan Nabi Saleh AS.

Kaum Tsamud menolak kebenaran Nabi Saleh AS yang juga berarti menolak Tuhan Yang Maha Esa. Gempa lalu datang menghancurkan kaum pongah itu.

Dari sini kita petik hikmah bahwa sejarah gempa adalah tentang keimanan dan ketuhanan.

Ia bukan bencana alam semata, tetapi ia adalah cambukan bagi kaum pendusta, kaum penyembah materi yang mengingkari kehadiran Tuhan ditengah eksistensi mahluk.

Gempa adalah tempaan daya tahan mahluk dan kekuatan iman hamba.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved