Opini
Belajar dari Nurdin Halid dan Golkar
Bagi faksi pembaharuan, musda X adalah momentum yang paling tepat untuk mengakhiri dominasinya di Golkar Sulsel.
Ia sampai dituding hendak melanggengkan dominasinya dengan memaksakan Kadir Halid, saudaranya, menjadi Ketua Golkar Sulsel.
Beberapa media online tampak secara konsisten dan sistematis merilis berita yang sungguh-sungguh tendensius memojokkannya.
Misalnya, ia dituding usulkan pencopotan Sekretaris DPD II Golkar Takalar, gegara mendukung Supri.
Terlepas dari Kadir Halid bersaudara dengan NH, memang Kadir salah apa jika punya keinginan untuk menjadi Ketua DPD Golkar Sulsel? Toh, bukankah ia juga kader yang punya hak untuk itu, sepanjang memenuhi persyaratan.
Kendati belakangan, Kadir Halid memutuskan berhenti dengan tidak mengembalikan formulir pendaftaran.
Namun, keputusannya itu tidak lantas memupus tudingan miring terhadap NH.
Bahkan, keputusan Kadir mundur dari kontestasi, dianggap hanya akal-akalan.
NH masih tetap saja dituding hendak melanggengkan dominasinya melalui sosok Hamka Baco Kadhy yang ikut meramaikan kontestasi.
Maklum, Hamka dikenal sebagai sahabat NH yang paling loyal.
Begitu pula saat NH memutuskan pelaksanaan musda X dipindahkan ke Jakarta, dinilai sebagai akal-akalan untuk memuluskan Hamka.
Pokoknya, apapun dilakukan Nurdin Halid untuk kepentingan Golkar Sulsel, bagi para penentangnya, tetap saja salah.
Sikap faksi pembaharuan yang dinilai berlebihan, ditunjukkan saat Supriansa mendapat diskresi dari DPP Golkar.
Supri begitu anggota DPR RI itu dipanggil mendapat pengecualian agar dapat mengikuti proses tahapan pendaftaran calon ketua.
Supri pun diinterpretasi sebagai titipan DPP Golkar, lalu mendapuknya menjadi punggawa faksi pembaharuan.
Para penentang NH, 'surat sakti' Supri itu, diartikulasi, bukan hanya sekadar diskresi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/wakil-ketua-umum-dpp-partai-golkar-roem-kono-kiri-dan-nurdin-halid-tengah.jpg)