Opini
Belajar dari Nurdin Halid dan Golkar
Bagi faksi pembaharuan, musda X adalah momentum yang paling tepat untuk mengakhiri dominasinya di Golkar Sulsel.
Oleh:
Yarifai Mappeaty
TRIBUN-TIMUR.COM - MUSYAWARAH Daerah (Musda) X Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Sulawesi Selatan di The Sultan Hotel Jakarta telah usai and so nice ending.
Semua merasa menang tanpa ada yang dilukai.
Kalau ada yang merasa terluka, hanyalah mereka yang memang berjiwa kerdil dan tak pernah cukup dewasa untuk menangkap esensi musyawarah yang merupakan jati diri bangsa.
Sebelumnya, tentu saja tak seorang pun pernah membayangkan kalau musda berakhir cantik seperti itu.
Bahkan tak sedikit pengamat meramalkan akan mengalami dead lock.
Bagaimana tidak, menjelang musda, tensi politik internal Golkar Sulsel demikian tinggi.
Pemilik suara Musda seolah hanya berfusi pada dua faksi yang bertentangan secara diametral.
Satu pihak menyebut dirinya faksi pembaharuan dan menyebut Nurdin Halid di lain pihak sebagai faksi status quo.
Hanya saja sedikit aneh, sebab faksi pembaharuan yang dimotori oleh sejumlah kepala daerah, tidak lain adalah status quo di daerahnya masing-masing.
Secara terang-tarangan, faksi pembaharuan membangun kekuatan untuk melawan Nurdin Halid.
Bagi faksi pembaharuan, musda X adalah momentum yang paling tepat untuk mengakhiri dominasinya di Golkar Sulsel.
Para penentang NH, begitu Nurdin Halid disebut, melakukan berbagai manuver untuk mendegradasi eksistensinya.
Lucunya, NH tidak merasa kalau dirinya sebagai lawan dari siapapun.
Beragam opini buruk dibangun dan dijejalkan ke media sosial untuk memberi kesan licik dan kemaruk kekuasaan pada sosok NH.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/wakil-ketua-umum-dpp-partai-golkar-roem-kono-kiri-dan-nurdin-halid-tengah.jpg)