Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Belajar dari Nurdin Halid dan Golkar

Bagi faksi pembaharuan, musda X adalah momentum yang paling tepat untuk mengakhiri dominasinya di Golkar Sulsel.

Editor: Mansur AM
TRIBUN-TIMUR.COM/ABDUL AZIS
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Roem Kono (kiri) dan Nurdin Halid (tengah) 

Bahkan dimaknai lebih jauh sebagai isyarat kalau NH sudah 'habis'.

Tak heran kalau kemudian ada yang latah menunjukkan dukungan kepada Supri secara terbuka melalui video pendek.

Bahkan, bukan hanya itu percakapan di warung-warung kopi, misalnya, tak jarang memunculkan narasi dan bunyi, 'habisi Nurdin Halid'.

Di lain pihak, melihat sikap NH sendiri yang tidak ambil pusing, membuat publik berasumsi kalau semua tudingan yang dialamatkan kepadanya, boleh jadi memang benar.

Bahkan penulis pun tak luput berasusmsi seperti itu.

Bukan apa, ia tak sekalipun mencoba menepis tudingan itu secara langsung.

Seolah tidak peduli orang mau bilang apa.

Paling jauh menyuruh orang lain melakukan bantahan.

"Itulah akrobatik politik," jawabnya singkat tatkala saya mencoba mengklarifikasi sebelum memutuskan Musda dipindahkan ke Jakarta.

“Akrobatik politik, maksudnya apa?” tanyaku dalam hati. Apakah manuver Supri dan para dedengkot faksi pembaharuan, baginya tak lebih dari sekadar sebuah pertunjukan akrobatik? Sehingga ia tampak tenang-tenang saja menikmatinya sebagai sebuah hiburan.

Wow....! Otak manusia satu ini memang brillian.

Bayangkan, sementara sebagian orang menilai diskresi Supri sebagai kekalahan telak baginya, NH justeru menjadikannya sebagai instrumen untuk menguak yang tersembunyi.

Baginya, diskresi itu membuat semuanya menjadi terang benderang, siapa mendukung siapa. Inilah modal paling penting yang dimiliki NH untuk mengendalikan Musda X Golkar Sulsel dari awal hingga akhir.

Tampaknya publik pada umumnya tidak tahu kalau kepentingan terbesar NH dalam Musda kali ini adalah mengamankan amanah Airlangga Hartarto selaku Ketum DPP Golkar yaitu, mensukseskan Musda tanpa gejolak.

Oleh karena itu bagi NH, kepentingan memenuhi amanah ketum tersebut, jauh lebih penting dari pada sekadar berkuasa di Golkar Sulsel, seperti yang ditudingkan kepadanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved