Kolom Klakson
Memberilah
Bangsa ini, krisis kaum pemberi. Padahal, bangsa ini punya tradisi dan watak saling memberi, saling tolong menolong.
Memberi senyum, memberi penghormatan, memberi pengetahuan/pemahaman, atau memberi kemanfaatan--semuanya adalah pemberian.
Namun, ada momentum yang dikhususkan Tuhan untuk kita memberi dengan pemberian khusus pula.
Dalam Islam dikenal dengan zakat. Sebab ia hanya diakui sebagai zakat bila ditunaikan pada bulan Ramadan. Wujudnyapun, material.
Pada mulanya, zakat adalah perintah yang longgar.
Selama 13 tahun Nabi Muhammad SAW bermukim di Mekkah, zakat memang disegerakan, tetapi belum sebagai kewajiban total.
Perintah menjalankannya memang ada, tetapi prosedur ketentuan spesifiknya, belum tertera.
• Jelang Lebaran, Pasar Butta Salewangang Maros Ramai Pengunjung, Banyak Tak Pakai Masker
Zakat sebagai perintah yang wajib dimulai saat Nabi SAW menetap di Madinah selama 17 bulan.
Di sini, zakat telah menjadi kewajiban sosial bagi ummat. Di situ spirit zakat adalah pemberian untuk kemashlahatan.
Barangkali penting menangkap spirit itu, seraya memperluas masanya tanpa mereduksi maknanya.
Artinya, kita memberi bukan hanya dibulan ramadan sebagaimana zakat dititahkan.
Tetapi pada bulan-bulan esokpun semestinya kita memberi.
Sebab, kenyataan sosial kita menunjukkan performance suram; kaum kekurangan terus membengkak seiring langkanya kaum pemberi.
Bangsa ini, krisis kaum pemberi. Padahal, bangsa ini punya tradisi dan watak saling memberi, saling tolong menolong.
Berbeda dengan bangsa kolonial yang tak punya watak memberi, mereka memiliki sifat 'mengambil' berdasarkan keinginannya, bukan berdasarkan haknya.
Tak berlaku logika hak baginya. Yang laris padanya hanyalah mengambil sesuai nafsunya.
Semoga Tuhan menjauhkan kita dari watak tak terpuji seperti itu.
Maka memberilah, sebab kita sesungguhnya adalah pemberian. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim_20180111_142834.jpg)