Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Klakson

Memberilah

Bangsa ini, krisis kaum pemberi. Padahal, bangsa ini punya tradisi dan watak saling memberi, saling tolong menolong.

Tayang:
Editor: Jumadi Mappanganro
Abdul Karim 

Oleh: Abdul Karim
Penulis dan Pegiat Demokrasi

"Memberilah, sebab kita sesungguhnya adalah pemberian". Dalam kitab suci, manusia diterangkan dengan penciptaan yang tak segampang mudah.

Dari setetes air, ke seonggok daging, konsensus rahasia, lantas ditiupkan ruh.

Hingga usia dunia ribuan tahun sudah, tak satupun ilmuan sanggup menciptakan manusia sebagaimana logika kitab suci yang mulia itu.

Begitu lahir, manusia lantas 'diberi' kehidupan dunia yang tak terkira.

Bicara dengan Bos MotoGP, Valentino Rossi Tak Pernah Bahas Pensiun

Dengan tahap penciptaan begitu, cukup terang bagi kita bahwa manusia adalah mahluk yang terberi.

Kita lahir bukan dari jagad antah-barantah.

Kita lahir bukan dari independensi kaffah, melainkan dari kemahakuasaan sang Pencipta sebagai sang Pemberi. Pahamkah kita dengan ini?

Barangkali kita paham, tetapi tak sadar. Sebab pemahaman belum tentu adalah sebuah kesadaran.

Bahkan, keduanya justeru seringkali bentrok hingga melahirkan kehampaan, atau kesepian makna.

Di sini kita hampa makna tentang bagaimana Tuhan memberi keperluan kita, baik yang badaniah, maupun yang rohaniah.

Lantas kita menjadi mahluk tak tahu diri, mahluk pelupa, lupa mereplikasi sifat 'pemberi' Sang Maha Pencipta itu.

MUI Takalar Bolehkan Warga di Wilayah Zona Hijau Salat Id di Masjid

Lalu, alasan apa kita tak memberi? Lupa? Bukankah Tuhan telah memberi berbagai hal? Tuhan saja memberi, mengapa kita tidak?

Padahal, waktu tersedia dengan luangnya untuk kita memberi kepada sesama mahluk. Memberi tak punya batas waktu.

Ia tak memiliki masa kadaluarsa sebagaimana barang-barang konsumsi.  Sebab di sini, memberi bukan dalam pengertian materi sahaja.

Memberi senyum, memberi penghormatan, memberi pengetahuan/pemahaman, atau memberi kemanfaatan--semuanya adalah pemberian.

Namun, ada momentum yang dikhususkan Tuhan untuk kita memberi dengan pemberian khusus pula.

Dalam Islam dikenal dengan zakat. Sebab ia hanya diakui sebagai zakat bila ditunaikan pada bulan Ramadan. Wujudnyapun, material.

Pada mulanya, zakat adalah perintah yang longgar.

Selama 13 tahun Nabi Muhammad SAW bermukim di Mekkah, zakat memang disegerakan, tetapi belum sebagai kewajiban total.

Perintah menjalankannya memang ada, tetapi prosedur ketentuan spesifiknya, belum tertera.

Jelang Lebaran, Pasar Butta Salewangang Maros Ramai Pengunjung, Banyak Tak Pakai Masker

Zakat sebagai perintah yang wajib dimulai saat Nabi SAW menetap di Madinah selama 17 bulan.

Di sini, zakat telah menjadi kewajiban sosial bagi ummat. Di situ spirit zakat adalah pemberian untuk kemashlahatan.

Barangkali penting menangkap spirit itu, seraya memperluas masanya tanpa mereduksi maknanya.

Artinya, kita memberi bukan hanya dibulan ramadan sebagaimana zakat dititahkan.

Tetapi pada bulan-bulan esokpun semestinya kita memberi.

Sebab, kenyataan sosial kita menunjukkan performance suram; kaum kekurangan terus membengkak seiring langkanya kaum pemberi.

Bangsa ini, krisis kaum pemberi. Padahal, bangsa ini punya tradisi dan watak saling memberi, saling tolong menolong.

Berbeda dengan bangsa kolonial yang tak punya watak memberi, mereka memiliki sifat 'mengambil' berdasarkan keinginannya, bukan berdasarkan haknya.

Tak berlaku logika hak baginya. Yang laris padanya hanyalah mengambil sesuai nafsunya.

Semoga Tuhan menjauhkan kita dari watak tak terpuji seperti itu.

Maka memberilah, sebab kita sesungguhnya adalah pemberian. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved