Literasi Ulama
AGH Abu Bakar Daeng Tumpu
Rumahnya di Tolo, Jeneponto, menjadi pusat para santri berguru, baik yang menetap maupun pendatang.
Oleh: Firdaus Muhammad
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
Jaringan dakwah ulama di bagian selatan Sulsel, terdapat sejumlah ulama yang berjejaring dengan ulama-ulama lainnya di dataran Sulselbar.
Salah satunya, Anregurunta Haji (AGH) Abu Bakar Tumpu yang dikenal masyarakat Jeneponto, Gurunta Daeng Tumpu.
Kiprah beliau terungkap dalam penelitian Prof Kadir Ahmad dalam bukunya berjudul Ulama, Guru dan Gallarang: Negosiasi Islam dan Lokalitas. Terbit 2019.
Sosoknya dikenal pecinta ilmu sepanjang hayat, baik dalam belajar maupun mengajar. Kehausannya dalam menuntut ilmu dapat ditelusuri dari guru-gurunya.
Kalau sebagian ulama memilih berguru ke Makkah, maka Gurunta Daeng Tumpu memilih berguru pada sejumlah ulama di Sulselbar.
• Nasib Guru Ngaji di Tengah Pandemi Corona
Di antaranya, berguru pada AGH Muh As’ad di Sengkang tahun 1935. Kemudian AGH. Padeppungeng di Bonde Campalagian Sulbar tahun 1937.
Ia juga pernah berguru ke AGH Ahmad Bone hingga berguru pada ulama di Salemo.
Dari sekian gurunya, tercatat hubungannya dengan AGH Ahmad Bone lebih intensif karena beliau rela mengikuti gurunya di mana ia berada, mengajar, dan berdakwah.
Selain berguru cukup lama pada AGH. Ahmad Bone, juga berguru dalam waktu relative lama pada AGH. Muh. Tahir di Balingnipa, Sinjai sejak tahun 1949.
Prof Kadir Ahmad mencatat bahwa Gurunta Abu Bakar Daeng Tumpu mengaji pada AGH. Muh. Tahir dalam waktu lama.
Hampir sepanjang tahun 1950-an hingga mengikuti gurunya ke Bantaeng.
Selanjutnya tahun 1959 mengaji pada al-allamah nasirusunnah AGH. Muh. Nur di Makassar.
Pada tahun 1952 Gurunta Daeng Tumpu menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama muridnya, Haji Ahmad Daeng Bella dan Haji Sabbang dari Tonrorita.
Beliau merintis pengajian dengan mengajarkan kitab-kitab standar di dataran tinggi.