Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Taman Patung Kuda

Balai Pelestarian Cagar Budaya Babat Taman Patung Kuda, Reaksi DPRD Sulsel

Unjuk rasa terkait Ali Amin, penjaga taman Patung Kuda depan Benteng Fort Rotterdam, yang terancam digusur.

Tayang:
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Ansar
muslimin emba/tribun-timur.com
Suasana Taman Patung Kuda, depan Benteng Fort Rotterdam Jl Ujungpandang, Makassar, pasca pembabatan atau pembersihan BPCB Sulsel, Kamis (9/1/2020) pagi. 

"Awalnya saya dipekerjakan Andi Mochtar disini untuk perbaikan intalasi listrik sama airnya bersama pekerja lain. Saat semua selesai, pak Mochtar menawari semua pekerja yang ada untuk tinggal sambil menjaga dan merawat taman ini, tapi tidak ada yang mau.

Akhirnya pak Mochtar menunjuk saya agar tinggal dan merawat taman ini sambil menunggu ada pekerja lain yang minat. Sekian lama tidak kunjung ada yang minat, saya pun dikasih surat tugas untuk tinggal dan mendirikan warkop," cerita Ali Amin ditemui, Rabu (13/2/2019) malam.

Hasil penjualan kopi dan aneka makanan seperti pisang epek, digunakan Ali Amin untuk biaya perawatan taman dan menghidupi keluarganya.

Sedari pagi hingga malam, tenaga dan pikiran ayah lima orang anak itu dikerahkan untuk menjaga tanaman taman.

Dan aktivitas itu ia lakoni sejak masih lajang hingga akhirnya beristri dan dianugerahi lima orang anak.

"Sudah salat subuh saya sudah masuk di taman, bersih-bersih rumput liar, sambil cek-cek tanaman yang rusak atau mati untuk diganti, sampai jam 9 pagi. Malamnya saya lakukan penyiraman," ujarnya.

Biaya perawatan taman itu semuanya diperoleh dari hasil penjualan kopi sesuai yang diamanahkan Gapensi.

Mulai dari listrik, air, tanaman rusak, hingga rumput rusak, semua ditanggung Ali Amin dari hasil seruput kopi pengunjung.

Dan itu berlangsung sejak 1995 hingga 2019.

"Terkadang kalau pengunjung warkop sepi, apalagi sekarang ini banyak warkop-warkop modern, saya keluar mencari kerja lain, misalnya bantu-bantu warkopnya teman untuk bayar listrik sama uang jajang anakku yang saya kasih sekolah juga," ungkap Ali Amin dengan raut wajah sedih.

Dedikasi atau pengabdian Ali Amin merawat taman selama ini cukup dinikmati warga nyantai di taman.

Pelajar khususnya mahasiswa, aktivis, NGO, dari berbagai organisasi bahkan menjadikan taman dirawat Ali Amin sebagai sarana edukasi menyehatkan.

Di bawa teduhan rindangnya pepohonan taman itu mereka belajar, berdiskusi dan melahirkan ide dan gagasan-gasan baru dalam melihat fenomena sosial yang terjadi.

Seperti diungkapkan Presiden Federasi Perjuangan Buruh Indonesia-Konfederasi Serikat Nusantara (FSPBI-KSN) Mukhtar Guntur K.

Mukhtar Guntur K mengaku di wakrop dan taman yang dirawat Ali Amin, ide-idenya lahir untuk mencetuskan gerakan-gerakan sosial.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved