OPINI
Misteri Wali Pitue
belum ada kajian serius atau ilmiah tentang Wali Pitue. Ada kecenderungan para intelektual, akademisi, bahkan ulama sekali pun mengabaikan hal ini.
oleh: Rajab S Daeng Mattayang
Blogger. Bermukim di Sulsel
WALI Pitue atau Wali Tujuh adalah sebuah fenomena menarik. Khususnya bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Kepercayaan terhadap Wali Pitue begitu hidup di tengah-tengah masyarakat, terutama di kalangan masyarakat bawah. Masyarakat, sebagian besar, percaya begitu saja.
Mereka sepertinya tidak butuh pembuktian apakah ketujuh tokoh tersebut betul-betul wali atau tidak.
Kata kuncinya adalah bahwa Sulawesi Selatan umumnya atau orang Bugis, Makassar, dan Mandar pada khususnya, juga punya wali sendiri sebagaimana di Jawa mempunyai Wali Sanga atau Wali Sembilan.
Apakah masyarakat kita sekadar latah dengan keberadaan Wali Sanga yang sudah eksis sebelumnya?
Foto ketujuh wali tersebut bukan hanya dipajang di ruang tamu untuk ukuran besar, tapi juga sengaja disimpan di dompet untuk ukuran kecil, agar mudah dibawah kemana-kemana.
• Perginya Jenderal Iran Pembela Alquds
• Top 5: 11 Fakta Reynhard-WNI Pemerkosa Terbesar Dalam Sejarah Inggris, Curhat Sule dan Nasib Iran
Bahkan saya ingat betul, di kampung dulu, pada malam-malam tertentu, utamanya malam Senin dan Jumat, ketika menjelang magrib, di tiang tengah rumah, foto Wali Pitue biasanya diletakkan khusus kemudian dibakarkan dupa.
Kesemua kebiasaan dan ritus tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan.
Begitulah pemahaman sebagian masyarakat yang merasa lebih mudah dan terasa dekat, bilamana ada perantaraan foto semacam itu. Boleh jadi itu dianggap wasilah atau tawassul.
Lantas siapakah sesungguhnya ketujuh tokoh tersebut? Di sinilah sebenarnya salah satu letak permasalahannya.
Lantaran, hingga saat ini, belum ada kajian serius atau ilmiah tentang Wali Pitue itu sendiri. Ada kecenderungan para intelektual, akademisi, bahkan ulama sekali pun mengabaikan perkara ini.
Buktinya, tidak ada satu buku pun yang mengupas tentang Wali Pitue. Di mana buku adalah salah satu parameter penting keilmiahan suatu perkara, apalagi ini menyangkut kepercayaan yang hidup di tengah masayarkat.
Boleh jadi karena dianggap kurang menarik atau ada unsur sensitivitas di dalamnya. Jelasnya, ini sangat kontradiktif dengan kajian tentang Wali Sanga yang telah melahirkan banyak buku.
Bahkan dijadikan bahan penelitian di perguruan tinggi dari waktu ke waktu, seolah-olah menjadi tema yang tidak ada habisnya untuk dibahas.