PERSPEKTIF
Berlibur Ibarat Mengasah Gergaji
"Mengapa kita butuh berlibur? Karena manusia punya titik jenuh dan lelah fisik, mental, dan spiritual," tulis Syamril, Rektor Kalla Business School.
Oleh: Syamril
Rektor Kalla Business School
Memasuki akhir bulan Desember ada dua kemungkinan. Semangat mengejar target akhir tahun. Bisa juga sudah masuk suasana libur dan mulai berfikir rencana liburan ke mana.
Boleh saja merencanakan liburan karena memang berlibur itu juga hak dan kebutuhan. Hak jika masih ada jatah cuti yang bisa digunakan.
Tapi jangan lupa target akhir tahun harus juga diraih karena itu menentukan kondisi diri pribadi dan pekerjaan di tahun depan.
Mengapa kita butuh berlibur? Karena kita juga manusia yang ada titik jenuh dan lelah fisik, mental, dan spiritual.
Lelah fisik akan muncul karena tubuh terus bekerja mengambil energi dari metabolisme tubuh.
• Setelah Menikah, Anggota DPRD Sulsel Irfan AB Pilih Liburan ke Bantimurung Maros
• 2019, Kasus Pelecehan Seksual Anak Dibawah Umur di Luwu Utara Masih Marak
Lelah mental dan spiritual disebabkan oleh faktor nonfisik seperti kejenuhan, kehilangan makna dan berkurangnya kepekaan sosial dan jiwa karena rutinitas.
Pekerjaan rutin membuat kita ibarat robot yang bergerak tanpa berfikir lagi. Ternyata itu tidak sehat bagi jiwa kita sebagai manusia.
Untuk mengatasinya perlu refreshing dengan cara berlibur, lepas sejenak dari rutinitas kerja dan mencari suasana baru jalan-jalan ke tempat wisata bersama keluarga dan teman.
Bersantai menikmati keindahan alam jauh dari tekanan pekerjaan. Suasana ceria dan gembira akan membuat suasana hati segar kembali.
Bisa juga wisata religi seperti umrah atau mengunjungi tempat keagamaan yang bersejarah dan dapat menyadarkan diri tentang esensi kehidupan di dunia ini.
Sadar bahwa dunia ini hanya sementara akhirat selamanya. Dunia tempat menyiapkan bekal menuju akhirat.
Analogi lain tentang berlibur yaitu mengasah gergaji. Bayangkan jika gergaji terus menerus digunakan tanpa pernah diasah maka pasti tumpul dan tidak bisa digunakan lagi.
Agar itu tidak terjadi maka secara berkala gergaji itu diasah geriginya sehingga tajam kembali.
Saat diasah tentu saja gergajinya rehat dari memotong kayu. Seperti itu pula manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/syamril-al-bugisyi_2.jpg)