Musim Hujan Telah Tiba, Waspadalah!
Penanggulangan banjir yang terfokus pada penyediaan bangunan fisik pengendali banjir untuk mengurangi dampak bencana penting untuk dilakukan.
Oleh: Andi Harnita Habibi
Mahasiswa Magister Administrasi & Kebijakan Kesehatan FKM Unhas
Musim penghujan telah tiba. Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir seperti di Sulawesi Selatan (Sulsel) harus bersiap. Penantian yang panjang akan datangnya musim hujan setelah menghadapi kemarau berkepanjangan seyogyanya tidak membuat kita lupa untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan terhadap banjir.
Berkaca pada kejadian awal 2019, setidaknya terdapat 13 kota dan kabupaten di Sulsel yang terkena dampak banjir seperti kesulitan air bersih, lumpuhnya aktifitas masyarakat, dan menimbulkan masalah kesehatan. Terparah berdasarkan laporan BPBD Sulawesi Selatan, banjir saat itu mengakibatkan korban jiwa sebanyak 78 orang (kompas.com, 31/1/2019).
Atas dasar tersebut, upaya penanggulangan banjir secara bertahap, meliputi prevention, respon/intervention dan recovery wajib dilakukan sebagai langkah antisipasi. Khususnya yang berkaitan dengan dampak masalah kesehatan yang ditimbulkan.
Mengutip kata bijak dari Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat (terakhir) dari Khulafa' Ar-Rasyidin “Tidak sepatutnya seseorang merasa aman tentang dua hal : kesehatan dan kekayaan.”
Masalah kesehatan
Banyaknya genangan air sudah dipastikan menimbulkan masalah kesehatan. World Health Organization (WHO) menyebut bencana banjir dapat meningkatkan transmisi penyakit menular. Penyebaran penyakit terbagi menjadi dua cara yaitu lewat air meliputi penyakit (demam tifoid, kolera, leptospirosis, dan hepatitis A). Ditularkan melalui vector meliputi penyakit (malaria, demam berdarah, demam kuning, dan demam west nile).
Kontak langsung pada air tercemar juga meningkatkan risiko infeksi penyakit seperti (dermatitis, konjungtivitis, infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan). Namun, penyakit-penyakit tersebut tidak rawan epidemi. Salah satu infeksi rawan epidemi yang ditularkan langsung lewat air adalah leptospirosis.
Penyakit zoonosis ini ditularkan dari darah atau urine hewan terinfeksi. Leptospirosis disebabkan oleh bakeri Leptospira yang hidup dalam tubuh (ginjal) tikus dan akan ditularkan melalui kencing dari tikus yang terinfeksi dan akan masuk dalam tubuh manusia melalui luka.
Proses ini akan menjadi cepat ketika urin hanyut dan larut terbawa dalam air sewaktu banjir.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh John T Watson,dkk (2007) dalam tulisan berjudul "Epidemics after Natural Disasters", di mana bencana banjir selalu dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi.
Namun risiko tersebut bisa diminimalisir, dan terhitung sangat rendah, kecuali terdapat kepadatan penduduk dan sanitasi buruk. Lebih jauh, ketika melihat catatan sejarah, banjir besar di Indonesia terjadi pada tahun 1992-1993 dan menjadi faktor signifikan penyebab diare. Penyebabnya adalah bakteri Salmonella enterica serotip Paratyphi A.
Kemudian menjadi catatan juga bahwa risiko wabah meningkat tajam saat banjir karena perilaku manusia yang mengakibatkan perubahan habitat vector. Di Indonesia, penyakit demam berdarah adalah penyakit yang paling diwaspadai ketika musim hujan tiba atau pasca-banjir.
Langkah pencegahan
Terjadinya serangkaian banjir dalam waktu relatif pendek dan terulang tiap tahun, menuntut upaya lebih besar untuk mengantisipasinya, sehingga kerugian dapat diminimalkan. Penanggulangan banjir yang terfokus pada penyediaan bangunan fisik pengendali banjir untuk mengurangi dampak bencana (structural approach) penting untuk dilakukan. Tetapi harus disinergikan dengan pembangunan nonfisik (non structural approach) agar penanggulangan banjir lebih integratif dan efektif.
Dari sisi kesehatan, pendekatan preventif diperlukan sebagai langkah (non structural approach), misalnya dengan menggalakkan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan baik dan benar. Caranya antara lain melakukan cuci tangan setelah kontak dengan air banjir (khususnya sebelum makan). Tidak membiarkan anak-anak bermain dengan air banjir dan mainan yang sudah terkontaminasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/andi-harnita-habibi.jpg)