Pertunjukan Radikal Teater Koma
Untuk membebaskan Jian, Juhro harus memiliki uang yang banyak untuk membayar hakim di pengadilan
Mbah Kung, Lurah Kolom Jembatan, kendati tiada henti mengalami penindasan, tak sekalipun mencoba melakukan perlawanan. Begitu radikalnya bertahan dengan kesabarannya hingga pada batas ia tak sanggup lagi. Mbah Kung kemudian berubah menjadi sosok pembrontak radikal. Di kepalanya hanya maki, benci, lawan, hingga bom bunuh diri.
Jian, seorang penghuni kolong jembatan. Hidup dari pekerjaan sebagai kuli angkut sampah. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sekali dalam sehari bersama isterinya. Meskipun begitu, Jian terkenal sebagai sosok yang jujur.
Hal itu memancing para mandor penguasa berbuat iseng menguji kejujurannya. Suatu hari, Jian menemukan tas, tergeletak tak jauh di tempat kerjanya. Tas tersebut berisi uang yang jumlahnya hampir membuatnya pingsan. Seumur hidupnya, belum sekalipun pernah melihat uang sebanyak itu.
Tetapi Jian tak tergoda, sekalipun ia sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya persalinan isterinya. Begitu radikalnya ia mempertahankan kejujurannya, Jian memilih pergi menemui Sekretaris Mandor untuk melaporkan dan menyerahkan temuannya. Namun, Jian tak pernah membayangkan kalau kejujurannya itu justru mendatangkan bencana di dalam kehidupannya.
Beberapa hari kemudian, Jian ditangkap jelang isterinya melahirkan. Dengan tuduhan mencuri, ia pun dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses peradilan. Padahal, pencurinya adalah Sekretaris Mandor sendiri, tapi ia melaporkan Jian pelakunya kepada Mandor Senior.
Juhro, isteri Jian, adalah sosok yang kelewat radikal mencintai suaminya. Untuk membebaskan Jian, Juhro harus memiliki uang yang banyak untuk membayar hakim di pengadilan. Sementara itu, untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Tidak ada pilihan baginya selain kembali menjadi pelacur, pekerjaannya sebelum bertemu Jian.
Tidak masalah. Sebab demi cintanya pada Jian, Juhro rela menjual dirinya kepada siapa saja yang dapat memberinya uang. Ia terus melakukannya hingga air susunya kering, tak tersisa setetes pun buat bayinya. Bahkan terkadang susunya hanya mengalirkan darah. Juhro baru berhenti setelah merasa bahwa uang yang diperlukan sudah cukup.
Namun, kemalangan yang menimpa Jian dan Juhro tak berhenti sampai di situ. Selain bayinya dicuri oleh mandor-mandor penguasa, juga, Jian kemudian dipaksa bunuh diri oleh Sekretaris Mandor di dalam selnya, usai Juhro menyerahkan uang kepadanya. Tidak ada lagi yang tersisa bagi Juhro, kecuali pembuktian akan cintanya yang radikal kepada suaminya.
Sia-siakah pengorbanan Juhro? Tidak. Sebab kematian Jian justeru menyulut terjadinya revolusi. Kaum Sampah-Sampah Kota bangkit secara radikal melakukan pembrontakan yang berusaha menumbangkan kekuasaan otoriter para mandor.
“Secara keseluruhan, kemalangan yang menimpa Jian dan Juhro, sebenarnya, juga sebuah penderitaan yang sangat radikal,” tukasku mengakhiri penjelasanku.
“Pandangan itu ditentukan oleh sudut pandang. Sedangkan sudut pandang dipengaruhi oleh tempat dimana kita berdiri. Maka wajar saja jika pikiran kita, sering kali menjadi liar.” Ilo membalas usai menghisap rokoknya dalam-dalam sampai tiga atau empat tarikan.
Kemudian sambungnya, “Tetapi yang saya mau bilang kalau negeri ini, memang mungkin tak banyak berubah selama empat puluh tahun ini. Setidaknya, menurut Teater Koma.” Saya sampai mengernyitkan jidat untuk berusaha menangkap apa yang dia maksud. Ah, dasar orang teater. Nyaris semua soal dilihat sebagai sebuah semiotika. (ym).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/yarifai-mappeaty_.jpg)