Wabup Tomy: Radikalisme Tak Hanya Diisukan ke Kelompok Islam

Kegiatan yang bertujuan untuk mempersatukan umat dan masyarakat dalam menguatkan NKRI digelar Cafe Wow Jalan Lanto Dg Pasewang.

Wabup Tomy: Radikalisme Tak Hanya Diisukan ke Kelompok Islam
Humas Pemkab Bulukumba
Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto sedang menjadi pembicara di Kemenag Bulukumba 

TRIBUN TIMUR.COM, BULUKUMBA-Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bulukumba menggelar dialog lintas agama dengan berbagai kalangan masyarakat dan profesi, Senin (4/9/2019). 

Kegiatan yang bertujuan untuk mempersatukan umat dan masyarakat dalam menguatkan NKRI digelar Cafe Wow Jalan Lanto Dg Pasewang. 

Pengendara ini Coba Menyogok Polisi Pakai Beras saat Terjaring Razia

Kunci Gitar (Chord) dan Lirik Lagu Langit Sore - Hilang Tanpa Kabar

Jelang Pembentukan Organisasi Baru, Gubernur NA Bakal Open Bidding Pejabat Eselon II

Imbas #Layanganputus, Video Lola Diara Pink Dress dan Lola Diara Nge****k Diserbu Netizen, Dihujat!

Debbie Bahas Truk Ekspedisi Makan Korban di Tallo, APT Bareng Warga Wajo

Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto didaulat sebagai pembicara bersama dengan Kapolres AKBP Syamsu Ridwan, Ketua MUI KH. Tjamiruddin. Adapun peserta dialog berasal dari tokoh lintas agama dari Katolik dan Protestan, serta perwakilan dari KUA dari tiap kecamatan.

Kepala Tata Usaha Kemenag, Muh Yunus mengungkapkan jika pertemuan tersebut membahas beberapa poin, seperti isu radikalisme, pakaian cadar dan celana cingkrang.

Selain itu forum tersebut juga membahas tentang hak-hak pemenuhan rumah ibadah bagi pemeluk agama, dan kewaspadaan Kerukunan Umat Beragama (KUB) jelang kontestasi Pilkada 2020.

" Poin selanjutnya mengenai isu aliran yang tidak sesuai kearifan lokal masyarakat setempat, kesepahaman SOP pendirian ormas, dan memahami SKB 2 Menteri tentang tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap pemeliharaan KUB," bebernya.

Tomy Satria Yulianto mengatakan, radikalisme tak hanya diisukan pada kelompok tertentu seperti Islam sebagai agama yang besar di Indonesia.

Namun radikalisme harus dilihat dari perilaku kelompok atau individu yang tidak toleransi terhadap kelompok lainnya.

" Kita sama-sama untuk melakukan pencegahan radikalisme. Tentunya penting untuk melakukan langkah-langkah persuasif," katanya.

Radikalisme dalam gagasan Tomy, selain tentang informasi keagamaan juga banyak dari faktor sosial dan ekonomi. Mendeteksi cikal bakal radikalisme dan mencegahnya harus dilakukan secara menyeluruh dan menjadi tanggung jawab bersama..

Halaman
12
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved