OPINI

OPINI - Shahrour dan Penyimpangan Intelektual

pemikiran nyeleneh dan menyimpang Shahrur ini yang sudah dibuang di tong sampah lalu kembali dipungut oleh Abdul Aziz,...

OPINI - Shahrour dan Penyimpangan Intelektual
Asiz Albar/Tribun Enrekang
Ketua Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Enrekang, Ilham Kadir. 

Sejumlah pakar keislaman pun angkat pena untuk mengkritiknya, antara lain: Syekh Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buti, al-Khalfiyyah al-Yahudiyyah li-Syi‘ar Qira’ah Mu‘asirah dalam majalah Nahj al-Islam, no.42 (Desember 1990); Syawqi Abu Khalil, Taqattu‘at Khatirah fi darb al-Qira’ah al-Mu‘asirah dalam majalah Nahj al-Islam, no.43 (1991); Tariq Ziyadah, Tarafah fi at-Taqsim wa Gharabah fi at-Ta’wil dalam majalah an-Naqid no.45 (1992) dan banyak lagi.

Fatwa yang dikeluarkan oleh Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah yang diketuai oleh Syekh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqithi, bahwa fitnah yang ditimbulkan oleh orang tersebut (Shahrour) adalah fitnah yang telah diketahui, dan kebathilan yang dibawa olehnya jelas dan terang, karena ia telah keluar dari manhaj ilmu yang lurus.

Dalam menafsirkan kalam Allah ia telah memperturutkan akal dan hawa nafsunya. Akhirnya ia pun sesat.

Khaldun Makhluthah dari Rabithah Al-& ‘39 Ulama As-Suriyyin (Ikatan Ulama Suriah), mengatakan, selama saya membaca karya Insinyur Mohammad Shahrour baik dalam buku-bukunya, makalahnya, atau acara-acaranya yang muncul di channel-channel (televisi maupun internet): bahwasanya ia telah melakukan tahrif (penyelewengan) terhadap Al-Quran, merusak Islam, menghalalkan yang haram, dan menyebarkan kerusakan sosial, ekonomi, dan pendidikan demi menyuguhkan Islam dengan wajah yang sesuai dengan kemauan Barat.

Baca: Bosowa Semen Turut Berpartisipasi dalam SNI Award 2019

Di antara sekian banyak hasil otak-atik Shahrour adalah ketika menafsir dan menakwilkan ayat, Illā & 39;alā azwājihim au mā malakat aimānuhum fa innahum gairu mal mīn (Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela), (Q.S. al-Mukminun: 5-6).

Menurut Shahrur ayat memberikan informasi tentang dua model hubungan seksual (al-`alâqah al-jinsiyah) yaitu: Pertama, hubungan seks yang diikat oleh ikatan pernikahan tercermin dalam istilah illâ `ala azwâjihim.

Kedua, hubungan seks yang tidak lewat pernikahan, tercermin dalam istilah aw ma malakat aimanuhum, yang secara harfiah berarti, apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka.

Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah milk al-yamin. Para ulama dulu dan sekarang umumnya memahami frasa milk al-yamin sebagai budak yang dimiliki.

Dulu, budak memang boleh dijadikan partner seksual oleh pihak tuannya, tanpa harus melalui pernikahan.

Ini sebagaimana dapat dibaca dalam literatur kitab-kitab fikih dan tafsir. Namun, bagi Shahrour milk al-yamin (baca: milkul yamin) di era kontemporer bukan budak, melainkan `aqdun ihshan atau sepadam dengan makna ‘kontrak kesepakatan untuk sama-sama menjaga diri hanya untuk berhubungan seks dengan pasangan tersebut saja, tidak dengan yang lain’.

Baca: Petani Curhat Kekeringan, Respon Kadis Pertanian Bulukumba Tak Terduga

Halaman
123
Editor: Aldy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved