Amankan Produksi, Kementan Waspadai Sebaran Hama Ulat Grayak pada Jagung

Kementerian Pertanian ( Kementan ) RI tidak tinggal diam dalam mengamankan produksi jagung dari ancaman serangam organisme pengganggu

Amankan Produksi, Kementan Waspadai Sebaran Hama Ulat Grayak pada Jagung
DOK KEMENTAN RI
Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari Kementan RI, Enie Tauruslina Amrullah 

TRIBUN-TIMUR.COM - Kementerian Pertanian ( Kementan ) RI tidak tinggal diam dalam mengamankan produksi jagung dari ancaman serangam organisme pengganggu tumbuhan.

Apalagi, baru-baru ini sedang dihebohkan adanya hama ulat grayak pada jagung yang sudah mewabah di beberapa negara.

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Kementan, Enie Tauruslina Amrullah mengatakan Kementan beberapa kali sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang serangan hama tersebut.

"Ulat Grayak atau nama latinnya Spodoptera frugiperda atau fall army worm merupakan hama invasif penting yang menyerang tanaman jagung pada beberapa negara di dunia," ujar Enie Tauruslina Amrullah di Jatisari, Kecamatan Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/8/2019).

Enie Tauruslina Amrullah menuturkan hama ini sudah menyebar ke negara-negara lain seperti Afrika, India, Thailand, China, dan Myanmar.

Dalam satu malam, ngengat S frugiperda mampu terbang sejauh ratusan kilometer dengan bantuan angin.

Baca: Kementan Genjot SDM Untuk Capai Produksi Sawit Terbesar di Dunia

Sementara di negara asalnya di Amerika, S frugiperda dapat berpindah sejauh 1700 km dari Texas ke Florida pada musim semi hingga musim gugur.

“Jadi kita jangan main-main dengan ancaman hama ini. Bahkan, hama ini dapat menyebabkan kehilangan hasil pada produksi jagung sebesar 40 persen di Honduras dan 72 perseb di Argentina. Kita upayakan betul jangan sampai terjadi seperti itu di Indonesia,” kata Enie Tauruslina Amrullah menegaskan.

Lebih lanjut Enie menyebutkan hasil pemantauan yang dilakukan BBPOPT pada periode April-Juli 2019, S frugiperda telah ditemukan di 12 Provinsi yang ada di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Gorontalo.

Selain 12 provinsi yang telah dimonitoring oleh BBPOPT, serangan S frugiperda juga telah dilaporkan terjadi di beberapa provinsi lainnya, di antaranya Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Jawa Timur.

Halaman
123
Editor: Edi Sumardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved