OPINI
OPINI - IYL yang Saya Kenal
Ia layak disebut tokoh pendidikan nasional. Sebab ia adalah pelopor sekolah gratis dan pelopor Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB)
Pernah seorang teman S3-nya akan di-drop out di Fakultas Hukum Unhas. Mendengar kabar itu, IYL datang menghadap ke dekan dan ke Rektor Unhas kala itu.
IYL bermohon agar temannya bisa dibantu. Namun sistem di Unhas sangat ketat hingga akhirnya temannya tak bisa dipertahankan.
Baca: Dandim Bone Ajak Siswa SMAN 28 Ponre Bijak Menggunakan Medsos
Tak sedikit juga mahasiswa S1 dan S2 yang tidak mampu bayar kuliah, dia bantu selesaikan.
ILY adalah salah satu politisi yang aktif kuliah.
Ia jarang absen. Kebiasaan ini sama dengan Adnan Purichta YL, anaknya yang sekarang juga Bupati Gowa dan sedang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Fakultas Hukum Unhas.
Meskipun sibuk sebagai bupati, Adnan selalu hadir di kampus dan mengikuti semua jadwal kuliah. Mungkin ada yang menganggap penilaian ini klise.
Tapi jujur, saya tak kenal dekat Adnan. Hanya sesekali bertegur sapa biasa jika sedang bersua di masjid dalam kampus. Ia termasuk selalu tepat waktu salat.
Apalagi Pak Ikhsan, bila ia di kantin bersama beberapa dosen, saya tak pernah ada di sana dan selalu jalan lurus menuju ke perpustakaan.
Tentu saja, cara pandang ILY tentang pendidikan menjadi catatan perjalanan politiknya.
Meskipun itu hanya brand politik bagi banyak orang, namun sisi sublimasinya bagi sumber daya manusia menjadi penting.
Program politik jelas bermuatan politik, dan tak dapat disangkal kadang ‘dianggap’ kampanye politik.
Namun IYL mampu meletakkan dasar-dasar kebijakan ini sebagai sumbu kebaikan bagi kebijakan publik yang berpijak pada ‘pikiran’ yakni rasionalitasnya yang mendukung kemajuan SDM.
Baca: Cegah Stunting, Unhas Gelar International Conference On Nutrition And Public Health
Ada relevansinya antara ‘kebijakan’ dan ‘pikiran’ yang bersemayam dalam tubuh politik IYL.
Ini ditunjukkan dengan keseriusannya menyelesaikan program doktornya dalam bidang hukum pendidikan.
Ia meneliti di beberapa negara dan mencari perbandingan sistem pendidikan yang bisa membuat negara-negara lain menjadi maju.
Dengan meneliti itu, ia mencarikan argumen legalnya hingga resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum Unhas pada 2018.